Justice for Audrey Jadi Trending Topic Dunia, LPSK Proaktif Lindungi Korban

oleh -

PETISI Justice for Audrey yang digagas warganet atas nama Fachira Anindy di Change.org sukses menarik perhatian publik dengan mencatat dukungan lebih dari 1,2 juta orang. Tagar #JusticeForAundrey bahkan menjadi trending nomor 1 dunia di Twitter.

Petisi tersebut intinya menuntut keadilan untuk siswi SMP korban penganiayaan di Pontianak, Audrey (14), oleh para siswi SMA pada 29 Maret 2019. Penganiayaan berjamaah yang berlatar asmara itu tak hanya membuat fisik korban terluka, tapi psikisnya juga. Terlebih kemaluan korban juga menjadi sasaran amuk, agar dikira tak perawan lagi.

“Korban sudah melapor. Kita berharap pihak kepolisian mengusut dugaan pengeroyokan tersebut,” ujar Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo Suroyo melalui siaran pers kepada Kabarjatim.com, Rabu (10/4/2019).

Hasto percaya kepolisian akan mengusut tuntas kasus dugaan pengeroyokan yang menyeruak ke publik ini. Menurut Hasto, LPSK juga akan menurunkan tim ke Pontianak untuk melihat kondisi korban, yang diinformasikan mendapatkan kekerasan fisik dan psikis, mulai ditendang, dipukul serta diseret hingga bagian kepalanya terbentur ke aspal dan kini terbaring di rumah sakit.

Selain memastikan kondisi korban, lanjut Hasto, kehadiran LPSK bermaksud melakukan perlindungan maupun bantuan yang disediakan oleh negara, seperti bantuan medis dan rehabilitasi psikologis bagi korban tindak pidana. LPSK yakin, dampak dari kejadian yang menimpa korban, tentu menimbulkan bekas, baik secara fisik maupun psikis.

Masih menurut Hasto, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut dan melihat posisi kasusnya. “Kita akan koordinasi dengan penyidik untuk mengetahui posisi kasusnya. Jika dugaan tindak pidana benar terjadi, kita berharap pihak kepolisian dapat memprosesnya dan LPSK siap membantu korban,” ujar dia.

Seperti diberitakan di sejumlah media massa, Polresta Pontianak menerima laporan tentang dugaan pengeroyokan siswi SMP. Dalam aduan itu, korban melaporkan bahwa dia telah mengalami kekerasan fisik dan psikis, seperti ditendang, dipukul, serta diseret sampai kepalanya berbenturan ke aspal. Penganiayaan terjadi pada 29 Maret 2019 di Pontianak. Kasus ini juga ditangani Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalimantan Barat.