Jika Gerindra ‘Capreskan’ Anies, Jokowi Bakal ‘Melenggang’ Dua Periode

oleh -
Prabowo-Jokowi

JAKARTA-Wacana duet Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono di Pilpres 2019 mencuat dan ramai diperbincangkan. Hal itu menyusul pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto siap menyerahkan ‘Tiket’ Capres ke orang lain.

“Saya siap jadi alat perubahan, saya siap untuk jadi alat umat dan alat rakyat Indonesia. Tapi bila saya tidak dibutuhkan dan ada orang yang lebih baik, saya siap mendukung untuk kepentingan rakyat dan umat Indonesia. Itu komitmen saya,” kata Prabowo beberapa waktu lalu.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengatakan, ada tiga kerugian jika Prabowo urung maju sebagai capres, menyerahkan tiket kepada orang lain. “Kerugian yang paling besar adalah menjadi pengakuan dari kubu Gerindra bahwa memang Jokowi layak dua periode,” kata Hendri saat dihubungi di Jakarta, Minggu (29/7/2018).

Ia menjelaskan, berdasarkan sejumlah lembaga survei, lawan terberat Jokowi di Pilpres 2019 sampai saat ini adalah Prabowo, kendati perbedaannya cukup jauh yakni sekitar 20 persen. Selain itu, Anies juga tidak membawa Coaktail efek bagi partai Gerindra.

Sangat sulit Anies dipersepsikan Gerindra. Ini sudah pernah dibuktikan di Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah, setengah mati Prabowo membuktikan Sudirman Said, dan Sudrajat sebagai orang yang dia dukung. Karena coattail effek Gerindra itu ya ada di Prabowo. Orang mau disuruh milih Prabowo, tapi yang lain belum tentu. Walaupun Prabowo meminta masyarakat pilih orang yang dijagokan dia,” papar Hendri.

Memang dalam beberapa event politik, sosok Prabowo memiliki catatan manis sebagai king maker. Pertama saat membawa Jokowi-Ahok menang di Pilkada DKI Jakarta, dan kedua saat merebut kembali kekuangan ibu kota dari tangan Ahok. Prabowo berhasil memenangkan Anies-Sandi di Pilgub Jakarta. Namun, di Pilpres 2019 ini tidak ada jaminan.

Kerugian lain bila Anies dipaksakan maju sebagai capres dan dipasangkan dengan AHY, kata Hendri, Gerindra akan dicap sebagai perusak pembangunan di Jakarta. Sebab, Anies yang sudah berkomiten menyelesaikan lima tahun di Jakarta.

Sementara Demokrat, justru yang mendapatkan efek elektoral dari majunya AHY. “Saya yakin SBY tidak menghitung kemenangan AHY di Pilpres kali ini. Tapi yang dia hitung adalah kemenangan AHY di 2024 atau bahkan 2029,” lanjutnya.

“Nah sekarang sangat tergantung kepada masyarakat Indonesia, apakah masyarakat suka terhadap brand AHY yang dipaksakan di awal, dikerek membungbung tinggi,” katanya lagi. @VIN