Jelang Pendaftaran Pilpres 2019, Peluang Gatot Nurmantyo Semakin Kecil

oleh -
Gatot Nurmantyo (ist)
Gatot Nurmantyo (ist)

JAKARTA- Sekitar sebulan lagi Pendaftaran Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) akan dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU-RI). Jika tidak ada perubahan, pendaftaran Capres-Cawapres akan dibuka pada 4-10 Agustus 2018.

Lantas bagaimana peluang Gatot Nurmantyo menjelang pendaftaran. Baru-baru ini, pendukung mantan Panglima TNI ini mendatangai DPP Partai Berkarya. Selain melakukan kominikasi, mereka berharap partai besutan Tommy Suharto ini memberikan dukungan atas pencapresan Gatot Nurmantyo.

Meski tak menyatakan secara langsung, namun Partai Berkarya meminta agar Relawan GN bergabung di Pileg 2019 mendatang.

Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia Zaenal A Budiyono mengatakan, apa yang dilakjkan Relawan GN ini merupakan sesuatu yang wajar. Mereka dalam rangka meluaskan dukungan terhadap GN.

“Namun bila mengacu kepada UU Pemilu yang baru, dibutuhkan setidaknya 20% Parliamentary Threshold (PT) agar GN bisa maju ke Pilpres. Pemegang tiket PT adalah parpol-parpol yang saat ini memiliki kursi di DPR,” kata Zaenal saat dihubungi wartawan, Minggu (1/7/2018).

Sementara, Partai Berkarya adalah partai baru yabg belum memiliki kursi di parlemen sehingga tidak bisa memainkan peran strategis di pilpres 2019.

Menurut Zaenal, jika Partai Berkarya memberikan dukungan kepada GN tidak lebih hanya dukungan moral dan politiknsaja. Sama haknya yang dilakukan dukungan ormas atau komunitas di masyarakat kepada capres. Padahal yang dibutuhkan GN hari ini adalah ‘tiket politik’ dari parpol-parpol yang ada.

Ketika ditanga, Apakah merapatnya pendukung GN ke Berkarya menunjukkan bahwa ruang di partai besar mulai menyempit? “Mungkin saja demikian. Perkembangan terbaru, PAN yang sejak awal kabarnya menyiapkan Tiket Capres untuk GN, dalam perkembangan terakhir justru membuka opsi bagi kembalinya Amien Rais ke medan laga. Deklarasi Koalisi Umat yang mendaulat AR untuk bertarung di Pilpres 2019 menunjukkan terjadinya pergeseran dukungan PAN,” jelas Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSSC).

Sementara mengharapkan dukungan dari Gerindra-PKS, tampaknya sangat sulit. Pasalnya pasca Pilkada 2018, justru terjadi bonus elektoral ke Prabowo Subianto setelah calon-calon yang didukung Gerindra-PKS tampil mengejutkan di Jabar dan Jateng—dua provinsi dengan populasi besar. “Begitu juga dengan PD yang tak juga memberikan sinyal positif ke GN, karena keberadaan AHY disana,” pungkasnya. @VIN