Jelang Lebaran, Awas Daging Gelonggongan

oleh -
Penjual Daging
Penjual Daging

SUMENEP – Jelang Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah, Pemerintah Daerah diminta untuk mengantisipasi masuknya daging sapi gelonggongan atau daging berbahaya di sejumlah pasar tradisional yang ada di Sumenep.

“Kami harap pemerintah harus aktif melakukan pengawasan, utamanya beredarnya daging gelonggongan,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Sumenep, Badrul Aini.

Beredarnya daging gelonggongan sangat merugikan konsumen. Sebab, daging gelongongan memiliki kadar keasaman (PH) rata-rata 6,25. Sedangkan daging normal hanya me gandung PH sekitar 5,5-5,8.

“Masyarakat rugi, karena dagingnya mengandung air, atau beratnya bertambah,” jelasnya.

Jika cara masakannya tidak sempurna lanjut Badrul, bisa membahayakan pada kesehatan. Salah satunya yang mengkonsumsi bisa terkena diare.

Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan, Sumenep, Bambang Heriyanto mengaku telah melakukan pencegahan dengan cara melakukan pengawasan secara optimal di sejumlah pasar tradisional.

“Hingga saat ini untuk di Kabupaten Sumenep, kami pastikan aman dari daging glonggongan,” katanya.

Dari itu, pihaknya meminta agar
masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya daging yang membahayakan kesehatan tersebut. Sebab, pemerintah daerah setiap hari terus melakukan pemantauan terhadap daging yang dijual dipasaran.

Daging yang terjual di pasar merupakan sapi yang dipotong sendiri oleh pedagang dan sapinya pun hasil ternak dari para petani atau peternak lokal. Bukan daging yang telah diproses secara tidak benar, seperti meminumkan air sebelum sapi disembelih.

“Masyarakat tidak perlu khawatir akan daging berbahaya itu. Daging yang dijual dipasaran semuanya daging sehat dan hasil ternak,” tandasnya.

Kendati demikian, paparnya, para konsumen tetap harus lebih berhati-hati saat hendak membeli daging sapi. Konsumen harus bisa membedakan daging sapi sehat dan daging glonggongan, karena perbedaannya sangat mencolok.