Indonesia Dapat Kucuran Dana Rp5,6 Triliun untuk Lawan Stunting

oleh -
Stunting (Foto: Kemenkes)

JAKARTA – Indonesia saat ini termasuk dalam 40 negara dengan tingkat stunting yang tinggi. Untuk menekan jumlah kasus ini, program-program penanggulangan gizi buruk seperti pemberian asupan tambahan secara berkala melalui pos pelayanan terpadu (Posyandu) harus digiatkan lagi.

“Kita mengenal program-program pengentasan gizi buruk melalui Posyandu yang giat memberikan susu, bubur kacang hijau, dan makan bergizi lainnya kepada masyarakat secara periodik. Kita bisa ulangi ini kembali,” tegas Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama yang berimbas pada terhambatnya pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

Dalam kesempatan ini juga disebutkan bahwa Bank Dunia akan memberikan pinjaman sebesar USD400 juta atau sekitar Rp5,6 triliun untuk mendukung pemerintah menjalankan program pencegahan stunting ini.

Sekretaris Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), yang juga Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Setwapres, Bambang Widianto pada rapat tersebut mengatakan pinjaman tersebut terdiri atas dua jenis. Pertama, pinjaman lunak sebesar USD 400 juta selama periode empat tahun dan kedua, hibah untuk dukungan teknis ke kementerian/lembaga sebesar USD 20 juta dari Global Finance Fund.

“Hal tersebut tertuang dalam sebuah program bernama P for R (Program for Result) atau yang dikenal dengan percepatan penyelenggaraan program,” ujar Bambang.

Sementara itu, Menteri Kesehatan mengatakan perubahan perilaku dalam mengelola siklus kelahiran juga berpengaruh pada perkembangan anak. Untuk mencegah stunting, Kementerian Kesehatan menargetkan agar isi piring setiap ibu hamil memenuhi standar minimal menurut ilmu kesehatan.

Editor: Ahmad Saefullah