#2019GantiPresiden Membuka Peluang Capres Alternatif

oleh -
Kostum Hastag 2019 Ganti Presiden
Kostum Hastag 2019 Ganti Presiden

JAKARTA-Hastag 2019 Ganti Presiden (#2019GantiPresiden) popularitasnya semakin menguat. Hastag ini justru bisa memicu munculnya calon arlternatif. Sehingga pada Pilpres 2019 bukan rematch antara Prabowo Versus Jokowi.

Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) Zaenal A Budiyono mengatakan, menguatnya popularitas #2019GantiPresiden ini menunjukkan masyarakat ingin pilihan alternatif. Dengan kata lain, #2019GantiPresiden tidak bisa lagi diklaim milik pendukung Prabowo, karena sebagian besar aktivis di belakang #2019GantiPresiden justru figur alternatif. Para inisiator #2019GantiPresiden ini sepertinya punya hitungan matematis mengenai kemungkinan Pilpres 2019 mendatang.

“Jika mereka mendukung Prabowo, hastagnya seharusnya langsung menguatkan nama Prabowo sehingga berdampak pada penguatan elektabilitasnya. Pasalnya karakteristik “pesan” dalam komunikasi politik sangat menentukan peluang kandidat,” kata Zaenal kepada Wartawan, Minggu (10/6/2018).

Jika gerakan #2019GantiPresiden membuka nama alternatif, siapa yang terkuat? Menurut Dosen FISIP Universitas Al Azhar Indonesia. ini ada dua nama yang menguat selain Prabowo jika dikaitkan dengan gerakan ini. Meraka adalah Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan. Gatot memiliki modal sebagai mantan Panglima TNI, sedangkan Anies cukup banyak yang bisa dijual selama menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Ketika ditanya diantara kedua nama itu siapa yang berpeluang? Zaenal mengatakan, sejak pilpres 2004, Indonesia masuk dalam demokrasi media. “Ini bukan term akademik, melainkan fenomena empirik yang terjadi di Indonesia. SBY dan Jokowi—dua presiden hasil pilpres langsung memiliki banyak perbedaan. Namun persamaannya, keduanya mampu memanfaatkan media secara baik,” jelasnya.

Hasil dari pemanfaat media yang cukup baik adalah menghasilkan dampak elektiral yang cukup signifikan. SBY dikenal sebagai sosok yang cakap saat berbicara di media. Sementara Jokowi membawa media terus memburunya karena aksi-aksinya di lapangan yang berbeda dari banyak politisi lainnya. “Kondisi Indonesia memang seperti ini dan tidak bisa dipungkiri,” tambahnya.

Lebih jauh Zaenal menjelaskan, semakin kesini, demokrasi media tak hanya menjual kemasan (pencitraan), sebaliknya masyarakan mulai menuntut substansi. Setidaknya itu yang terlihat pada Pilgub DKI Jakarta 2017, dimana debat menjadi titik tolak meroketnya elektabilitas Anies Baswedan. Padahal, elektabilitas Anies selalu tertinggal dari Ahok dalam beberapa bulan sebelumnya.

Di pilpres 2019 nanti, debat masih akan memberi pengaruh signifikan terhadap elektabilitas kandidat. Dalam kasus Gatot vs Anies, tanpa mengecilkan kemampuan debat Gatot, tampaknya Anies sedikit lebih unggul. Rekam jejak Anies di dunia aktivis, akademisi hingga politisi dan birokrat sangat dekat dengan tradisi debat. Sementara Gatot dengan latar belakang militer justru lebih dekat dengan tradisi komando. Kesimpulannya, sebagai aktivis Anies sedikit diuntungkan dengan sistem pemilihan langsung.

Tidak hanya dalam konteks demokrasi media, kinerja Anies selama memimpin Jakarta juga tak bisa dipandang sebelah mata. Ia bahkan sudah menyamai keberanian Ahok dalam menantang pemain-pemain lama di Ibukota. Mulai dari menutup Alexis, menginvestigasi gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, hingga menghentikan proyek ratusan triliun, reklamasi teluk Jakarta. Semuanya adalah kasus-kasus raksasa yang tak mudah dilakukan oleh pemimpin kelas medioker. Gatot bukan tidak punya prestasi selama di Panglima TNI, namun sejauh ini tidak ada yang benar-benar monumental dan membekas di benak publik.

“Saya sebenarnya sangat tertarik dengan strategi pertahanan ala Pak Gatot yang berbasis perang memperebutkan sumber pangan dan proxy war. Ini merupakan pemikiran beyond military yang luar biasa. Namun konsep besar tersebut sepertinya belum tuntas dijalankan saat Gatot di pucuk pimpinan TNI,” jelas Zaenal. Akhirnya dengan berbagai variabel di atas, peluang Anies sedikit lebih besar untuk menang di era demokrasi media seperti sekarang ini. @VIN