Geliat Kampung Inggris ‘Eks Lokalisasi Dolly’

oleh -
Fandi Utomo bersama warga
Fandi Utomo bersama warga

SURABAYA-Tepatnya tiga tahun lalu Lokalisasi Dolly ditutup. Sejak saat itu, aktivitas warga di sekitar lokalisasi dolly berubah total dari segala bidang. Dan yang paling terpukul adalah sendi-sendi ekonomi. Meski demikian, perekonomian warga berangsur-angsung bangkit dari ketergantungan atas kebedaraan lokalisasi yang konon pernah terbesar se-Asia Tenggara.

Salah satunya yang mencoba bangkit adalah warga yang tinggal di Jalan Putat Jaya Timur I. Di tempat ini melalui Wahyu Cahyono, warga setempat berubah menjadi tempat yang edukatif. Melalui sentuhan tangan dinginnya, tempat tersebut diubah menjadi ‘Dolly English Club’.

Di tempat ini, anak-anak mulai dari RT 1 hingga RT 6 diajarkan bahasa Inggris. Tak hanya itu, kegiatan ini juga melibatkan warga dan pemuda karang taruna setempat. “Awalnya dulu susah. Saya harus teriak-teriak pakai Toa ke anak-anak dengan cara menawari jajanan. Jika ada yang mau, maka saya ajak belajar dulu. Dan Alhamdulilah sekarang warga juga menyambut positif,” kata Cahyo.

‘Dolly English Club’ dirintis sejak setahun yang lalu. Di Kampung ini, setiap anak diajarkan berbahasa Inggris dengan mendatangkan sejumlah instruktur bule. Sementara, tempat belajarnya berada di rumah-rumah warga. “Anak-anak disini berlajar bahasa Inggris pada Pukul 14.00 WIB, 16.00 WIB, 18.00 WIB hingga 19.00 WIB. Tempatnya di rumah-rumah warga,” jelas Cahyo.

Semua fasilitas yang digunakan oleh ‘Dolly English Club’ merupakan hasil swadaya dari masyarakat. Mereka bersemangat ingin berubah dengan bermodalkan nama besar Dolly. Bedanya, dulu nama besar dolly berkonotasi negatif, nah saat ini berubah menjadi hal yang positif sebagai kampung berbahasa Inggris di Surabaya.

“Saya terinspirasi dengan Robinj Old Town di Kroasia. Dimana kota tua itu diubah menjadi sebuah wisata literasi yang terkenal di eropa. Kota itu adalah bekas kota milisi,” jelasnya.

Cahyo mengaku, nama besar ‘Dolly English Club’ ini mulai banyak diketahui oleh dunia luar. Contohnya, beberapa waktu lalu ada ada rombongan dari Toraja yang datang. Meraka menginap di ‘Dolly English Club’ selama satu minggu. Tempat menginapnya di rumah-rumah warga. Tentunya, ekonomi di sekitar lokasi tumbuh karena ada aktivitas wisata.

“Kami merekomendasikan rumah-rumah warga yang dipandang layak untuk menginap. Tentunya, ekonomi mulai bergerak dan warga juga menyambut baik,” jelasnya.

Kata Cahyo, Geliat ‘Dolly English Club’ ini adalah buah karya bersama warga sekitar. Pemerintah baik Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim hingga saat ini belum ada perhatian. Namun, hal itu bukan menjadi halangan untuk berubah lebih baik.

“Semua dari warga dengan cara swadaya. Pemkot dan Pemprov Ngeklaim thok. Termasuk, mereka yang datang kesini juga arahan dari pemerintah melainkan jaringan yang saya punya dan jaringan warga,” jelasnya.

Sementara itu, Fandi Utomo, Bacaleg DPR RI dari PKB yang datang ke lokasi tersebut mengaku salut dengan perjuangan warga Putat Jaya. Ia mengapresiasi upaya warga untuk keluar dari ketergantungan keberadaan lokalisasi. “Dengan jaringan yang saya punya saya siap bersama warga. Salah satunya adalah akan mendatangkan para akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Networking yang kita punya bisa dipadukan agar ‘Dolly English Club’ menjadi hebat,” kata Fandi saat hadir dalam acara tumpengan di Dolly English Club.

Kata Fandi, Dolly English Club sangat layak direkomendasikan sebagai Wisata Literasi Nasional. Karena melihat dari sejarah sebelumnya dan semangat warga yang bangkit bersama. Nantinya, beberapa networking yang berkaitan dengan wisata baik lokal maupun nasional akan dihidupkan bersama.

“Saya mendukung, ngguyupi dengan akases dan relasi yang ada. Yang penting putat jaya makin baik. Insya alloh bisa lebih baik,” pungkas Fandi. @VIN