Ekonomi Pancasila Konsep Untuk Percepat Millenial di Dunia Kerja

oleh -
Pakde Karwo dan Emil Dardak
Pakde Karwo dan Emil Dardak

SURABAYA – Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan, ekonomi Pancasila perlu diperkenalkan kepada para generasi milenial saat ini. Dengan konsep itu, masyarakat bisa memahami dan membangun makna ideologi Pancasila yang sesungguhnya.

“Kalau para generasi milenial dinilai paling lambat masuk ke dunia kerja. Itu karena dari mereka menganggap bahwa dirinya tidak percaya diri, kalau mampu menjadi pengusaha yang struggle,” kata Emil, pada acara Diskusi Kelompok Terarah Sistem Ekonomi Pancasila dalam Praktik di ruang Rapat Utama Bappeda Jatim, Kamis (11/4/2019).

Bahkan, menurutnya, minat generasi milenial pada bidang kewirausahaan juga dinilai rendah. Dan bahkan, hampir 70 persen tingkat pengangguran terbuka disumbang dari umur generasi milenial. “Karena itu, sistem ekonomi Pancasila kita titipkan pada perspektif generasi milenial. Apakah kita membangun lagi konsep keberadaan ekonomi Pancasila dari kacamata milenial ?,” kata Emil.

Pembahasan terhadap sistem ekonomi Pancasila, lanjut Emil bisa dilihat pada momen pengambilan keputusan, baik pada sisi pemerintah atau masyarakat sipil yang mempunyai peranan penting dalam memberikan opini terhadap sebuah kebijakan.

Apakah kita sudah paham mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari ? Ini yang menjadi perhatian pemerintah. “Kami tentunya bersyukur dalam mendefinisikan Pancasila khususnya mengelola sistem ekonomi kita. Apalagi Jatim dipilih sebagai tempat diskusi. Bisa dikatakan Jatim menjadi laboratorium untuk melihat bagaimana ekonomi Pancasila diterapkan,” imbuhnya.

Sementara itu, mantan Gubernur Jatim periode 2009-2019, Soekarwo, mengatakan kebijakan pembangunan dan pengentasan kemiskinan di Indonesia harus melibatkan masyarakat miskin dan terpinggirkan yang menjadi tujuan pembangunan itu sendiri. Negara (pemerintah) harus mampu mendengarkan aspirasi masyarakat agar masyarakat terlibat aktif dalam berbagai program pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Kata Pakde Karwo, sapaan akrabnya, program pembangunan dan berbagai kebijakan akan efektif jika masyarakat terlibat aktif di dalamnya dan kebijakan yang dimaksud berdaya guna. “Orang miskin itu perlu kita dengar. Untuk itu kata kuncinya adalah pemberdayaan, bukan charity,” ujarnya.

Ia mengingatkan tugas pemerintah mewujudkan keadilan sosial. Untuk itu, masyarakat harus aktif dalam program-program yang ada. “Masyarakat harus kita dengar, baru kemudian kita bisa melakukan pemberdayaan yang tujuannya mendorong masyarakat semakin produktif,” kata Pakde Karwo.

Dicontohkan, Program Jalan Lain Menuju Masyarakat Sejahtera (Jalin Kesra) dan Jalan Lain Mandiri dan Sejahtera (Jalin Matra) yang dijalankan saat memimpin Jatim mampu memberdayakan masyarakat miskin menjadi produktif dan naik kelas. “Program dan bantuan pemerintah untuk mendorong masyarakat produktif. Ini yang kita perlukan ke depan,” katanya.

Editor : Nurul Arifin