Efek Covid 19, Jumlah Janda di Bondowoso Meningkat

oleh -
Suasana di Pengadilan Agama
Suasana di Pengadilan Agama

BONDOWOSO-Kondisi ekonomi yang kian memburuk akibat pendemi Covid-19 diyakini menjadi salah satu pemicu perceraian di Kabupaten Bondowoso. Selama pandemi melanda atau dalam rentan waktu empat bulan terakhir, tercatat sudah ada 279 kasus perceraian, salah satunya adalah faktor keuangan.

Menurut Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bondowoso, Muhammad Novriantoro bahwa angka perceraian di Bondowoso 30% merupakan faktor ekonomi.

“Akibat dampak korona kan ekonomi jadi sulit. Jadi untuk penyebabnya bertambah. Paling banyak faktor penyebab terjadinya perceraian adalah ekonomi Sebesar 30%,” katanya, Selasa (9/6/2020).

Novriantoro menjelaskan, cerai karena faktor ekonomi adalah kondisi disaat istri merasa kurang dinafkahi hingga berujung ditinggalkan oleh sang suami.

“Banyak perempuan memutuskan untuk mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Karena sudah merasa jenuh akhirnya mengajukan perceraian,” ujarnya.

Secara keseluruhan, selama memasuki tahun 2020, total angka perceraian di Bondowoso berjumlah 645 kasus selama empat bulan terakhir.

“Selain 267 karena faktor ekonomi, diantaranya karena faktor perselisihan secara terus menerus sebanyak 276 kasus, meninggalkan satu pihak 45 kasus dan KDRT 26 kasus. Sisanya sebagian kecil dikarenakan kawin paksa, mabuk dan cacat badan,” jelasnya.

Novriantoro menambahkan jika angka perceraian tersebut sebenarnya bisa saja lebih. Sebab, diasumsikan tidak sedikit anggota keluarga bermasalah memilih untuk menunda melapor dikarenakan selama pandemi layanan PA dibatasi.

“Bisa jadi orang masih enggan keluar rumah. Karena juga ada pembatasan. Jadi hanya mereka yang benar-benar merasa terdesak bercerai yang datang ke sini,” pungkasnya.

VIN