Dugaan Pengusiran Warga Desa Mojowangi Munculkan Masalah Baru

oleh -

JOMBANG – Dugaan pengusiran terhadap Wahyudi (55), warga Dusun Mojodukuh, Desa Mojowangi, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang menuai masalah baru. 

Betapa tidak, seperti yang diberitakan sebelumnya, Pemerintah Desa setempat melayangkan surat pemberitahuan yang dikeluarkan tertanggal 18 Mei 2019 lalu. Bahwa pria satu anak ini sudah tak boleh lagi tinggal seatap dengan Hari Setyowati, yang tak lain adalah istrinya. 

Hal tersebut mengacu pada akta perceraian dengan nomor 3517-CR-24042018-0001. Padahal pihak suami tak merasa ada pemberitahuan apapun terkait gugatan cerai. 

“Saya tidak pernah ada masalah dengan istri, apalagi sampai masuk ranah persidangan. Kok tiba – tiba muncul akta perceraian. Kemudian saya ke kantor desa cari tahu masalah ini, eeeeh malah tak di tanggapi,” ujar Wahyudi, Kamis (23/05/2019).

Masih menurut pria yang saat ini mempunyai usaha sebagai tengkulak jagung, dalam surat pemberitahuan yang dilayangkan oleh Pemdes, memastikan jika telah ada akta perceraian dengan nomor 3517-CR-24042018-0001, yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Jombang, tertanggal 24 April 2018 silam. Dengan begitu status rumah tangganya telah berakhir. 

“Nah saya malah jadi bingung, sebab selama ini tidak ada proses perceraian. Kok tiba – tiba, saya mendapat surat pemberitahuan agar tidak boleh hidup serumah,” terangnya. 

Sementara itu, saat di klarifikasi, Jurusita Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Jombang, Endah Sugiarti menyatakan jika memang ada proses sidang perceraian. Bahkan register nomer akta perceraian itu juga benar adanya. 

“Memang ada proses sidang perceraian dengan penggugat Hari Setyowati, serta dengan tergugat Wahyudi,” tuturnya. 

Kami juga sudah mengirimkan surat panggilan kepada penggugat maupun tergugat sebanyak 3 kali. Bahkan saat itu, Hari Setyowati mengatakan jika sang suami lama tidak pulang. Surat panggilan dari PN Jombang kemudian diserahkan ke Kantor Balai Desa Mojowangi.

“Dan selama proses persidangan, kita telah melalui semua mekanisme yang telah ditetapkan oleh Undang – Undang. Yang jelas kita telah melayangkan surat panggilan sebanyak 3 kali,” terangnya. 

“Kalau ada upaya untuk menyembunyikan atau tidak menyampaikan kepada yang bersangkutan, itu sudah diluar kewenangan kami,” pungkasnya. 

Terpisah, Pramono Hadi, Kepala Desa (Kades) Mojowangi, yang dihubungi melalui nomor selulernya mengatakan. Apa yang diperbuat oleh Pemdes terkait dilayangkannya surat pemberitahuan, merupakan bentuk jawaban atas laporan warga. 

Yakni adanya mantan suami istri yang masih tinggal satu atap. Kalaupun akhirnya dianggap sebagai pengusiran oleh yang bersangkutan, pihaknya kurang sepakat terkait hal itu. 

“Yang jelas kita hanya merespon laporan dari warga. Karena sesuai dengan akta cerai yang telah dikeluarkan oleh PN Kabupaten Jombang, bahwa mereka sudah tidak dibenarkan apabila masih tinggal satu atap,” tandasnya. 

Editor.  :  Rusmiyanto