Dua Faktor yang Jadi Tantangan Terberat Pembangunan Ekonomi

oleh -
dari kiri ke kanan: Pengamat Ekonomi Unika Atma Jaya Rosdiana Sijabat, Jubir BPN Muhamad Iqbal, Pengamat Politik Emrus Sihombing, Direktur Komunikasi Politik TKN Usman Kansong, moderator Daryl Adam
dari kiri ke kanan: Pengamat Ekonomi Unika Atma Jaya Rosdiana Sijabat, Jubir BPN Muhamad Iqbal, Pengamat Politik Emrus Sihombing, Direktur Komunikasi Politik TKN Usman Kansong, moderator Daryl Adam

JAKARTA-Dua Faktor menjadi tantangan terberat untuk pembangunan ekonomi kedepan. Dua faktor itu adalah faktor eksternal dan Internal. Menurut pengamat ekonomi, Rosdiana Sijabat, faktor eksternal adalah terjadi pelambatan kinerja ekonomi kawasan. Dan kejadian di luar negeri akan mempengaruhi ekonomi dalam negeri. Seperti Amerika dan China sibuk perang dagang. Eropa masalah dengan pasar keuangan. Di Asia Tenggara terjadi pelemahan permitaan barang dan jasa.

“Perekonomian global akan menekan perekonomian kita. Jadi siapaun nanti yang terpilih, bagaimana meningkatkan aktivitas ekonomi dari sisi rumah tangga. Kondisi perekonomian global akan berdampak bagi Indonesia. Siapapun nanti yang terpilih akan menghadapi tantangan cukup berat,” kata Rosdiana dalam Diskusi publik bertema “Visi Capres-Cawapres Menjawab Tantangan Ekonomi” di Cikini, Kamis (11/4/2019).

Ia menjelasakan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada 2018 sekitar 5,2 sampai 5,3 %. Target pertumbuhan pemerintahan Jokowi cukup optimis, 7 %. Tapi semua pertumbuhan ekonomi global melambat. Amerika saja pertumbuhan ekonomi 2,9 %. Indonesia tidak terlalu buruk, tapi juga tidak terlalu baik. Singapura 3 %. Vietnam dan Kamboja mampu mencapai 6 %. Pertumbuhan 5,2 % angka yang patut disyukuri untuk perekonomian yang sedang sepi. “Faktor eksternal tidak bisa 100 persen kita atur,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Pengamat Politik dan Direktur Eksekutif EmrusCorner Emrus Sihombing mengatakan soal hutang tidak ada pemerintahan yang tanpa hutang. Semua pemerintahan pasti membuat hutang. Yang terpenting adalah sejauh mana hutang itu digunakan untuk kesejahteraan rakyat. bukan untuk korupsi. “Jangan menggunakan kekuasaan untuk koruptif sehingga utang tidak digunakan dengan baik. Saya berpendapat, tidak ada yang tanpa utang. Kalau utang digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, saya kira tidak masalah,” jelasnya.

Yang terjadi sekarang adalah acap kali para politikus itu menjanjikan angin surga yang tidak terukur. “Prabowo menurut saya tidak cukup hanya mengkritisi, tapi harus menawarkan konsep atau loncatan luar biasa yang tidak terpikirkan orang. Misal, menekan korupsi dengan menarik inspektorat menjadi di bawah presiden, sehingga punya kekuatan untuk mengontrol,” tambahnya.

 

Meski Pertumbuhan ekonomi 5 persen saat ini, itu sudah luar biasa karena disisi lain adaada pembangunan infrastruktur. “Di momentum politik nanti, pesan saya untuk masyarakat sebelum memilih, lihat programnya calon, lihat rekam jejaknya, lihat history of life-nya, lihat kehidupan sehari-hari dan keluarganya, karena ini akan mempengaruhi dia dalam memimpin,” pungkasnya.