Disperinaker Bojonegoro Lakukan Monitoring Pemberian THR

oleh -
Disperinaker Bojonegoro Lakukan Monitoring Pemberian THR
Disperinaker Bojonegoro Lakukan Monitoring Pemberian THR

BOJONEGORO – Dinas Perindust’rian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bojonegoro menekan pemilik usaha atau perusahan untuk segera memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para pekerja. Pasalnya, Jumat (8/6/2018) merupakan hari terakhir batas waktu yang ditentukan dalam pembayaran THR.

“Kita benar-benar tekankan agar perusahaan dapat membayar THR kepada pekerja sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Kasi Hubungan Industri (HI) Disnas Perindustrian dan Tenaga Kerja Bojonegoro, Imam WS.

Dia juga menambahkan, jika ada beberapa perusahaan yang belum memberikan THR kepada pekerja, meskipun Disperinaker sudah memasuki masa libur lebaran, pekerja masih dapat melapor di posko yang disediakan.

“Senin dan selasa kami akan membuka posko pengaduan di kantot Disperinaker bagi para pekerja yang belum mendapatkan THR,” jelasnya.

Disperinkaer juga menghimbau kepada pemilik usaha agar memberikan THR paling lambat tujuh hari (H-7) sebelum Hari Raya Idul Fitri. Imbauan Disperinaker tersebut sesuai dengan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pembayaran Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2018 yang ditandatangani pada 8 Mei 2018.

“THR Kegamaan wajib dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan. Pekerja yang telah bekerja selama sebulan secara terus menerus juga berhak mendapatkan THR,” kata Imam WS.

Untuk besaran THR bagi pekerja yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, memperoleh THR 1 bulan upah. Sedangkan bagi pekerja yang mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus-menerus tetapi kurang dari 12 bulan, THR-nya diberikan secara proporsional sesuai dengan perhitungan yang sudah ditetapkan, yaitu masa kerja dibagi 12 bulan dikali 1 bulan upah.

“Pemberian THR Keagamaan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan pengusaha kepada pekerja (Sesuai agama masing-masing) dan itu sudah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016,” lanjutnya.

Sedangkan bagi pekerja harian lepas yang mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, besaran THR-nya berdasarkan upah 1 bulan yang dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan. Serta, bagi pekerja lepas yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.

“Kita selama ini sudah melakukan pemberitahuan melalui surat kepada pemilik usaha, setelah itu melakukan monitoring kepada perusahaan tersebut. Sedangkan untuk perusahaan sendiri yang memberikan THR mencapai 443 perusahaan,” katanya