Dispendik Probolinggo Copot Kepala Sekolah Pasca Karnaval

oleh -
Ilustrasi
Ilustrasi

SURABAYA – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Probolinggo mencopot Hartatik sebagai Kepala Sekolah (Kasek) TK Kartika V-69 Kota Probolinggo. Ini lantaran Hartatik lalai dalam mengerahkan anak didiknya dengan kostum cadar dan membawa senjata replika dalam sebuah acara karnaval pawai budaya beberapa waktu lalu.

“Sanksi dari Dispendik Kota Probolinggo ini kepada Hartatik yang dicopot sebagai Kepala Sekolah, karena dia dianggap lalai terhadap murid-muridnya saat acara karnaval,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera, di Surabaya, Kamis (23/8/2018).

Barung mendapat informasi pencopotan itu langsung dari Dispendik Kota Probolinggo. Ia menerima surat pemberitahuan dari Dispendik berisi surat pemecatan Hartatik sebagai Kepala Sekolah TK Kartika V-69 Kota Probolinggo.

Surat itu bernomor surat perintah tugas Nomor 820/2235/425.103/2018 bertanggal 21 Agustus 2018, yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Probolinggo, Moch Maskur.

“Saat ini, yang bersangkutan (Hartatik, red) dipindah tugaskan sementara sebagai staf di Dispendik Kota Probolinggo, dengan tugas dan pangkat yang sama,” kata Barung.

Barung mengaku belum mengetahui siapa pengganti Hartatik. Sebab, ia hanya meneri surat terkait sanksi berupa pemecatan terhadap Hartati sebagai Kepala Sekolah.

“Masih belum tahu siapa penggantinya, kita masih koordinasi,” ujarnya. Barung menegaskan bahwa kasus karnaval yang sempat viral di media sosial (medsos) di Kota Probolinggo telah selesai. Ia berharap masyarakat tetap tenang dan menyikapi positif utamanya hal yang beredar melalui sosmed.

“Masalah karnaval itu sudah selesai, pihak sekolah juga telah mengklarifikasi, sudah meminta maaf kepada publik. Intinya kegiatan karnaval itu tidak ada niatan yang mengarah kepada simbol radikalisme atau kelompok tertentu,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Kota Probolinggo, Jawa Timur, sempat gempar dengan pawai murid Taman Kanak-kanak dalam acara karnaval memperingati HUT ke-73 RI pada, Sabtu, 18 Agustus 2018.

Dalam pawainya, puluhan anak-anak menggunakan kostum serba hitam dengan cadar, dan membawa replika senjata laras panjang, yang menggambarkan kelompok radikal.

Tak lama kemudian, video karnaval tersebut beredar luas di sosial media (sosmed). Sontak, warganet ramai- ramai mengomentarinya yang menilai pawai ala radikalisme.

Bahkan, Mendikbud langsung turun gunung sehari setelah kegiatan tersebut, setelah mendapat protes dari sejumlah ormas kepemudaan dan keagamaan seperti IPNU, GP Ansor, dan Gusdurian Probolinggo. @VIN