Diskusi Tokoh Soal Khitan Perempuan di Sumenep

oleh -
Diskusi Tokoh Soal Khitan Perempuan di Sumenep
Diskusi Tokoh Soal Khitan Perempuan di Sumenep

SUMENEP – Sejumlah tokoh, baik dari kalangan kiai dan tim medis, perwakilan aktivis perempuan dan laki-laki berkumpul dalam satu kegiatan bertema Mendialogkan Khitan Pada Perempuan Melalui Tokoh Agama dan Pesantren.

Kegiatan yang digelar di Aula Mini Kampus Instika Sumenep itu, merumuskan beberapa poin penting dalam hal ‘sunat perempuan, antara dihentikan atau dilanjutkan.

Salah satu pemateri kegiatan, Kiai Mohamad Salahuddin A. Warits mengatakan, berdasarkan beberapa sumber tentang ditentangnya sunatan perempuan di beberapa daerah termasuk di Mesir, ditemukan pemotongan ekstrem genital perempuan atau mutilasi genital perempuan (FGM).

“Hal ini tidak bisa dibiarkan. Harus dicarikan solusi terbaik agar generasi kita tidak menjadi korban mutilasi-mutilasi seperti ini. Apakah ini baik untuk dilanjutkan ataukah ini harus dihentikan,” katanya, saat mengisi kegiatan hasil kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Pondok Pesantren Annuqayah.

Para pemimpin dunia, lanjut Kiai Mamak, sangat mendukung penghapusan mutilasi genital perempuan tersebut. Badan dunia seperti PBB juga menganggapnya bisa dicapai jika semua negara bertindak sekarang untuk mewujudkan komitmen tersebut menjadi tindakan.

Bahkan ulama Al Azhar dan Darul Ifta sempat mengeluarkan fatwa pengharaman praktek sunat perempuan karena dilakukan secara berlebihan dan membahayakan.

“Di Mesir, persoalan seperti ini sangat ditantang oleh pihak pemerintahan. Karena memang apabila ditimbang, akan lebih banyak mudarotnya,” terangnya.

Prosedur ini menghilangkan sebagian atau seluruh organ genital perempuan. Data di PBB, setiap tahun, lebih dari 3 juta anak perempuan antara bayi hingga usia 15 tahun berisiko mengalami praktik berbahaya ini.

Lalu seperti apa di Indonesia? Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan terbaru Nomor 6 Tahun 2014, sunat perempuan tidak dianggap sebagai tindakan kedokteran karena pelaksanaannya tidak berasal dari indikasi medis.

Selain itu, merujuk pada peraturan tersebut, pelaksanaannya belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan.

Namun, sayangnya praktik sunat perempuan yang masih terjadi di beberapa tempat di Indonesia, ini disebabkan karena prosesi ini masih begitu lekat dengan tradisi.

“Pandangan medis terhadap sunat perempuan berbeda dengan sunat laki-laki. Sunat perempuan umumnya dibagi 2 teknik, yaitu hanya menyayat klitoris sedikit atau membuang seluruh klitoris. Efek baiknya tidak ada karena ini lebih menyangkut pada soal tradisi atau keagaman tertentu,” kata pemateri dari bidang kesehatan, Rini Antika.

Dijelaskan pula, apabila sunat laki-laki memang memiliki banyak manfaat. Beberapa di antaranya untuk membuang smegma atau kotoran yang jangka panjang bisa menimbulkan penyakit dan juga untuk kebersihan agar kotoran tidak terkumpul di preputium kulit.

Ditambahkan juga oleh bidan yang berpraktek di sebuah rumah sakit di daerah Sumenep ini jika sunat perempuan justru memberi efek buruk bagi penerimanya.

“Kadang bila sterilitas tindakan kurang baik, itu akan menimbulkan risiko infeksi, perdarahan, nyeri, dan bekas luka,” tuturnya.

Itu sebabnya diapun menganggap jika sunat perempuan itu adalah tindakan yang tidak perlu.

“Kalau dilihat dari manfaat medis, sunat perempuan tidak ada. Jadi, tidak perlu. Dari sisi medis, tujuan dilakukan sebuah tindakan untuk tindakan pencegahan (preventive) atau pengobatan (curative). Namun, sunat perempuan itu tidak masuk dalam kriteria itu,” tandasnya.

Editor : Nurul Arifin