Dirut PDAM Surabaya Harap Para Pemilik Utilitas Bawah Tanah Ambil Pelajaran

oleh -

SURABAYA – Pasokan air PDAM Surabaya akhirnya kembali mengalir normal setelah   empat hari macet. Peristiwa ini akibat pemindahan pipa PDAM bawah tanah di kawasan pembangunan alun-alun Surabaya di Jalan Yos Sudarso beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, pasokan air untuk 200 ribu pelanggan PDAM harus terhenti sejak Sabtu (7/9/2019). Air PDAM baru kembali mengalir sejak Rabu (11/9/2019) dini hari.

Direktur PDAM Surya Sembada Surabaya Mujiaman mengimbau, bagi warga yang masih ada keluhan terkait pasokan air untuk kembali melaporkan kepada petugas lewat sosial media atau kontak resmi PDAM.

“Alhamdulillah sudah kembali normal semua. Selatan, tengah, utara sudah lancar kembali. Tolong dibantu laporkan kami kalau masih ada yang macet, kita segera cek secara khusus,” ujar Mujiaman, Rabu (11/9/2019).

Seperti diberitakan, macetnya pasokan air berawal saat PDAM Surabaya berupaya memotong pipa saluran airnya untuk dipindahkan pada jalur yang baru. Pasalnya, mengingat instalasi utilitas bawah tanah di kawasan Yos Sudarso yang cukup padat membuat jalur pipa PDAM harus berhimpitan dengan pipa milik PT Telkom.

Proses pemotongan dan pemindahan kabel ini membutuhkan proses yang panjang. Konsekuensinya, pasokan air terpaksa dihentikan untuk dilakukan penjelasan dan penyambungan menggunakan baut.

Mujiaman mengakui, proses pemotongan pipa yang dilakukan tersebut berada di luar perhitungan teknis para stakeholder terkait. Pasalnya, melihat kondisi lalu-lintas utilitas bawah tanah yang cukup banyak dan bersilangan begitu padat.

“Lalu-lintas bawah tanah ini ada air, gas bumi, fiber optik, dan lain-lain. Bukan sesederhana di gambar. Semua saling silang dan jalan pintas. Kita harus menata pipa nggak boleh sembarangan,” terang Mujiaman.

Oleh karenanya, Mujiaman berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi instansinya maupun bagi stakeholder lain selaku pemilik dari utilitas jaringan bawah tanah. Para pemilik utilitas diharapkan memiliki peta lokasi yang lebih baik dan teratur. Biasanya mereka punya peta tapi belum memberikan lokasi secara detilnya.

“Biar jadi pelajaran kita para pemilik utilitas bawah tanah, harus punya peta bawah tanah lagi yang jelas. Jadi kalau ada pembangunan atau keperluan lain bisa membantu kita,” ujarnya.