Dimas Kanjeng Divonis Nihil Meski Terbukti Bersalah

oleh -
Dimas Kanjeng Saat Menjalani Persidangan (amal/kabarjatim)
Dimas Kanjeng Saat Menjalani Persidangan (amal/kabarjatim)

SURABAYA-Dimas Kanjeng Taat Pribadi kembali menjalani sidang agenda putusan di Ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (5/12/2018). Taat duduk di kursi pesakitan terlihat rapi saat mengenakan batik warna coklat dengan bawahan hitam.

Pantauan Kabarjatim di lokasi, saat memasuki ruang sidang, Taat terlihat membalas sapaan dari para pengunjung PN Surabaya. Kehadirannya sempat menarik perhatian publik.

Tak sedikit pula pengunjung yang mengabadikan Taat dengan kamera smartphone, ketika namanya dipanggil Ketua Majelis Hakim, Anne Rusiana. Taat pun langsung duduk di kursi pesakitan.

Anne mengatakan, terdakwa Taat Pribadi Alias Dimas Kanjeng Taat Pribadi Bin Mustain sekitar bulan Pebruari 2014 di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo yang beralamat di Dusun Sumber Cangkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, terbukti melakukan tindak pidana penipuan terhadap korbannya.

“Mengadili, terdakwa bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP,” kata Anne, saat membacakan amar putusan.

Meski diputus berasalah, Kanjeng Dimas tidak harus menjalani hukuman sebagaimana kasus penipuan yang didakwakan sebelumnya. Kata Anne, bahwa sebelum kasus penipuan ini, terdakwa sudah menjalani vonis penjara untuk kasus pembunuhan selama 18 tahun penjara dan kasus penipuan selama tiga tahun penjara. Sehingga jika diakumulasi, total masa pidana penjara terdakwa selama 21 tahun.

“Undang-undang secara kumulatif tidak membolehkan hukuman melebihi dari 20 tahun. Maka, pidana pada terdakwa nihil,” kata Anne.

Kata Anne, terdakwa Taat Pribadi sekitar bulan Februari 2014 di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo yang beralamat di Dusun Sumber Cangkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo terbukti melakukan tindak pidana penipuan terhadap korbannya, Muhammad Ali.

“Korban membayar mahar sebesar Rp60 juta dengan tujuan akan dibangun pondok pesantren, rumah sakit, serta penampungan anak yatim piatu,” kata Anne

Permintaan Muhammad Ali disetujui dengan memberi jaminan dua koper yang berisi uang masing-masing berisi mata uang euro dan real senilai Rp60 miliar. Namun koper itu tidak boleh dibuka dulu sampai ada perintah dari Taat Pribadi. Dana Rp10 miliar tersebut diserahkan ke Taat Pribadi secara bertahap sekitar empat kali.

Rinciannya, pertama Rp3 miliar, kedua Rp2 miliar, ketiga Rp3 miliar, dan keempat Rp2 Milyar di bulan Pebruari 2014. Sayangnya, uangnya pun ditilap oleh Taat. “Mengadili, terdakwa bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP,” ujar Anne.

Mendengar vonis ini, Taat Pribadi langsung tersenyum. Usai sidang dia mengaku langsung menerima keputusan tersebut. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rakhmat Hari Basuki, menyatakan akan mengajukan banding terkait dengan vonis tersebut. Sebelumnya, JPU menuntut Taat Pribadi pidana selama empat tahun penjara.

“Saya akan laporkan dulu putusan ini pada pimpinan. Tapi saya akan ajukan banding,” ujar Hari. @VIN