Dari Pengajian Kitab Tajul Arusy di Ponpes Sunan Ampel

oleh -
Pengajian Kitab Tajul Arusy
Pengajian Kitab Tajul Arusy

ALHAMDULLAH, setelah beberapa kali mengikuti pengajian ini, baru kali ini saya memiliki ide untuk membuat resume pengajian KItab Tajul Arusy. Namanya juga resume makannya mohon maaf jika ada kekurangan ataupun kesalahan dalam membuat coretan ini. Saya tiba-tiba tergelitik dengan penjelasan sang Kiai soal keutamana Maulid Nabi SAW.

Setiap Sabtu legi malam Ahad Pahing ada kegiatan rutin pengajian kitab Tajul Arusy karya Syaikh ibnu Atha’illah as-Sakandari. Kitab ini dibacakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel KH Taifuqurrahman Muchid. Ngaji kitab ini semula untuk para alumni namun juga terbuka untuk umum. Kitab Tajul Arusy ini lebih banyak berbicara tentang tasawuf dan menata hati. Penjelasangan secara rinci bagaiman menata hati yang dijelaskan oleh Ibnu Atha’illah as-Sakandari yang juga pengarang Kitab Hikam ini.

Pada Sabtu (22/12/2018) itu, dalam keterangannya Abah Taufiq mengupas bagimana keutamaan maulid Nabi hingga menimbulkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. “Jangankan orang Muslim, Orang kafir saja bisa mendapatkan syafaat maulid ini. Misalnya, orang gemar Sholat, Shodaqoh, Haji tapi kemudian mati dalam keadaan kafir maka seluruh pahalanya itu hangus. Namun tidak bagi mereka yang senang dan bungah saat maulid nabi. Karena maulid nabi ini pahalanya tetap ada meski mati dalam keadaan kafir,” kata Abah Taufiq.

Ada sebuah hadist dari kitab Shohih Bukhori. Diriwayatkan ada paman nabi yang bernama Abu Lahab. Abu Lahab adalah tokoh arab yang kerap memusuhi Nabi Muhamammad SAW. Abu Lahab sangat benci kepada Nabi mulai dari telapak kaki hingga ubun-ubun.Bahkan, Abu Lahab sudah di-Nas dalam Al Quran sebagai penduduk neraka. Artinya, kepastian itu sudah ditetapkan oleh Alloh SWT bahwa Abu Lahab tidak akan masuk surga.

Rupanya, syafaat Nabi Muhamamad SAW mampu menolongnya. Biarpun Abu Lahab orang kafir yang sudah jelas masuk ke dalam neraka. Lantas Apa syafaat itu? Yakni setiap hari senin Abu Lahab siksanya diringankan oleh Alloh SWT. Karena pada hari itu, Abu Lahab sekali seumur hidup merasa senang atas kelahiran Nabi Muhamamad SAW. Bahkan, wujud dari kesenangan itu, Abu Lahab membebaskan seorang Budak bernama Tsuwaiba. Bahkan, Abu Lahab memerintahkan kepada Tsuwaiba untuk menyusui Nabi Muhammad SAW.

Kata Abah Taufiq, rasa suka cita Abu Lahab atas kelahiran Nabi itu bukan lantaran menjalankan perintah Alloh SWT. Melainkan, rasa suka cita ini karena memiliki keponakkan laki-laki. Sebagaimana kultur budaya arab saat itu jika memiliki kelahiran anak atau saudara laki-laki merupakan kehormatan bagi orang arab namun jika memiliki kelahiran saudara atau anak perempuan merupakan malu bagi keluarganya.

“Abu Lahab senang saja sudah mendapatkan Syafaat. Terbukti siksanya diringankan setiap hari Senin. Ini yang berbicara hadist Bukhori,” kata Abah Taufiq. Dan dijelaskankan pula bahwa Nabi Muhammad SAW ini diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

Begitulah keutamaan maulid nabi, bersholawat kepada nabi. Makanya, Abah Taufiq memiliki cara tersendiri dalam setiap pengajian dimanapun. Yakni, dalams setiap memulai pengajian ataupun jamaah Thoriqoh selali diawali dengan Mahalul Qiyam memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad serta wujud kecintaan dan kerinduan bagi Nabi Muhammad.

“Kenikmatan di dunia ini tidak ada artinya ketika kita sudah bisa melihat kanjeng Nabi lewat mimpi sekalipun. Seseorang yang bermimpi bertemu Nabi atau melihat Nabi derajat manusianya pasti lebih tinggi. Bahkan, ketika orang sudah bermimpi bertemu kanjeng Nabi akan menjadi waliyulloh,” jelas Abah Taufiq.

Abah Taufiq juga menceritakan peristwa meninggalnya Gus Rofi’ pengasuh Pondok Pesantren Umar Zahid, Perak, Jombang. Pemilik nama lengkap KH. Rofi’usy Syan meninggal dunia pada 20 November 2018 lalu.

Sesaat sebelum meninggal, Gus Rofi’ melakukan perayaan peringatan Maulid Nabi SAW. Pada malam kelahiran Akromul Kholqi pada malam 12 Robiul Awal dengan penuh khidmat Gus Rofi’ menabuh sendiri terbang (rebana) itu saat mahalul qiyam. Menurut Abah Taufiq tidak biasa Gus Rofi’ menabuh rebbana sendiri. Tiba-tiba beliau berseru….”ROSULULLOOH RAWUH”… dan bersamaa dengan itu, Gus Rofi’usy berpulang mengikuti makhluk mulia yang sangat sangat dicintainya, yang disebut sebutnya setiap saat dan kesempatan, yang begitu dirindunya, yang kecintaan dan kerinduan itu telah menjadi denyut nadi, aliran darah, tarikan dan hembusan nafasnya. “Itu adalah kematian yang sangat indah. Ditunggui kanjeng nabi,” jelas Abah Taufiq.

PENULIS : CakBajoel (Santri Kalong PP Sunan Ampel)