Cerita di Balik Diskualifikasi Atlet Judo Berhijab

oleh -

KEPUTUSAN wasit mendiskualifikasi atlet para games pejudo putri Indonesia yang turun di nomor 52 kilogram, Miftahul Jannah, lantaran menolak melepas jilbab saat bertanding, memunculkan komentar beragam.

Staf Khusus Kemenpora Zainul Munasichin mengungkap cerita di balik peristiwa itu. Dia menegaskan kabar itu betul adanya. Namun, dia ingin menyampaikan beberapa hal agar muncul pemahaman proporsional dan jernih karena menyangkut hal sensitif, soal agama.

Pertama, menurut aturan International Judo Federation (IJF) Pasal 4 butir 4, segala pelindung kepala tidak boleh digunakan di pertandingan Judo, kecuali perban di kepala yang dibuktikan oleh keterangan medis.

Kedua, aturan ini bertujuan untuk menjamin keamanan atlet saat bertanding, karena penutup kepala termasuk jilbab dapat dimanfaatkan lawan untuk mencekik leher dan itu berbahaya. Di pertandingan Judo, nilai hanya bisa didapat dari kuncian dan bantingan. Beda dengan karate atau silat, nilai bisa didapat dari tendangan dan pukulan.

Ketiga, aturan larangan penutup kepala ini telah disepakati oleh seluruh perwakilan National Paralympic Committee (NPC) seluruh negara peserta dalam technical meeting, termasuk NPC Indonesia

Keempat, sebagai tambahan informasi, ketentuan tentang larangan penutup kepala di pertandingan Judo ini juga sudah diterapkan di Islamic Solidarity Games (ISG), yang nota bene ajang olahraganya negara-negara muslim dunia. Tahun 2013 lalu Indonesia jadi tuan rumah ISG di Palembang.

Kelima, pertanyaannya, mengapa Miftahul Jannah tetap diturunkan untuk bertanding? Pihak pelatih merasa masih bisa melakukan negosiasi terkait aturan tersebut. Namun, negosiasi itu tidak berhasil karena info yang saya dapat, selain soal safety reason, ini bukan forum yang tepat untuk mengubah ketentuan. Perlu forum terpisah untuk merubah hal itu, karena menyangkut aturan internasional federasi olahraga dunia.

Keenam, bersamaan dengan itu, tim pelatih juga membujuk Miftahul Jannah agar bersedia melepas sementara jilbabnya saat betanding. Bahkan orang tuanya juga ikut membujuknya. Namun, upaya tersebut tidak berhasil, karena Miftahul Jannah teguh memegang prinsip soal berjilbab. Akhirnya, panitia pertandingan pun memutuskan diskualifikasi.

Ketujuh, tentu kita harus menghargai dua hal prinsipal yang dipegang teguh oleh masing-masing pihak. Panitia memegang teguh aturan internasional Judo, Atlet Miftahul Jannah memegang teguh prinsip agama.

Kedelapan, pepatah mengatakan, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap entitas punya aturannya masing-masing. Kita tidak boleh menyalahkan atas perbedaan aturan-aturan tersebut.