Cara Mahasiswa Universitas Ciputra Asah Kreatifitas Anak-anak SD-SMP di Tengah Pandemi

SURABAYA – Tidak semua mahasiswa mau terjun ke lapangan untuk memberikan pendidikan terhadap anak-anak di perkampungan. Seperti halnya yang dilalukan mahasiswa Fakultas Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya di perkampungan di Jalan Tales, Kecamatan Wonokromo Surabaya.

Sekelompok mahasiswa itu bekerja sama dengan Sanggar Merah Merdeka, menggelar pelatihan untuk mengasah kreativitas pelajar SD dan SMP. Berbagai ilmu diajarkan kepada mereka, demi mencapai cita-cita yang diimpikan.

“Kegiatan yang digelar ini untuk mengobati kebosanan para pelajar, yang sepanjang pandemi covid-19 lebih banyak belajar online di rumah. Prinsipnya untuk mengasah kreatifitas anak-anak SD dan SMP, ” kata Theo Paulus Agung, mahasiswa smester 3 Universitas Ciputra Surabaya ini, ditemui di lokasi, Kamis, 23 Desember 2021.

Theo menjelaskan, pelatihan yang digelar tidak hanya terkait mata pelajaran yang selama ini diajarkan di sekolah. Tetapi lebih banyak berbentuk kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan untuk mengasah kreativitas para pelajar. Seperti mengajak mereka berkreasi membuat toping makanan, mengasah kepercayaan diri, hingga pembelajaran video animasi.

Yang dilibatkan adalah siswa-siswi kaum pinggiran, dari keluarga gak mampu untuk diajak berkreativitas. Seperti membuat toping makanan, mendorong mereka menyampaikan cita-cita mereka, dan banyak lagi,” ujar Theo ditemui di Sanggar Merah Merdeka, Wonokromo, Surabaya, Kamis, 23 Desember 2021.

Baca Juga  Liburan, Mahasiswa Ini Pilih Jadi Volunteer Ketimbang Jalan-Jalan

Theo menambahkan, kegiatan yang digelar diharapkan mampu mengembangkan wawasan, keterampilan, dan kreativitas anak-anak binaam Sanggar Merah Merdeka. The mengungkapkan, ada sekitar 25 anak yang mengikuti kegiatan yang digelar dua hari tersebut. Kesemuanya berasal dari keluarga kurang mampu.

“Kami juga ingin menghilangkan rasa minder dari mereka. Makanya kita latih untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Supaya mereka tetap merasa setara dengan anak-anak lainnya, meskipun berasal dari keluarga kurang mampu,” katanya.

Theo berharap, kegiatan yang digelar bisa mendorong kelompok masyarakat lainnya agar lebih memiliki kepedulian terhadap anak-anak dari keluarga kurang mampu. Kepedulian yang dimaksud bisa disalurkan melalui pelatihan-pelatihan, ataupun bantuan lainnya untuk mendorong semangat belajar para siswa-siswi tersebut.

“Mudah-mudahan anak-anak ini bisa berkembang, dengan pelatihan dan belajar dari ilmu yang kami ajarkan,” ujarnya.

%d blogger menyukai ini: