Budi Daya Cacing, Dulu Menjijikkan Kini Jadi Penghasilan Yang Menggiurkan

oleh -
*Caption:* _Sukarnoto Saat Memberi Makanan Pada Cacing (Aan Amrulloh/kabarjatim)
*Caption:* _Sukarnoto Saat Memberi Makanan Pada Cacing (Aan Amrulloh/kabarjatim)

 

JOMBANG-Usaha kreatif memang sangat menggiurkan di era saat ini. Di Indonesia banyak sekali usaha dan ide yang layak untuk dikembangkan. Terlebih lagi Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam.

Salah satunya adalah hewan cacing. Bagi sebagian orang, Cacing adalah hewan yang menjijikkan. Dengan bentuknya yang licin dan memiiki karakter hidup di tempat yang kotor tentunya membuat hewan ini semakin terlihat menjijikkan.

Namun, bagi Sukarnoto, warga Dusun Rejosari, Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno – Jombang, hewan dengan nama latin Lumbricus Rubellus ini bisa menjadi komuditas yang mampu mendongkrak penghasilan. Selain hanya membutuhkan modal yang sedikit, Cacing bisa dijual dengan harga hingga jutaan rupiah. Dengan harga seperti itu, tentunya mampu mendongkrak perekonomian keluarga Sukarnoto.

Untuk budidaya Cacing ini tidak membutuhkan tempat yang luas. Media penangkarannya pun tak butuh tempat khusus. Sukarnoto, biasanya memanfaatkan halaman depan serta samping rumah, ruang kosong hingga kandang ayam.

Cukup dengan membuat kotak – kotak yang terbuat dari papan kayu dengan ukuran sesuai luas dan lebar ruangan. Selanjutnya kotak – kotak tersebut di susun berjajar ke atas dengan dikasih sela agar bisa digunakan saat kasih makan dan panen.

Sebagian cacingnya juga ada yang dibudidayakan di bawah tanah di sekitar tanaman cabe dengan membuat kotak yang di sekat dengan batu bata. Namun terlebih dulu tanah tersebut diberi kotoran ternak yang sudah mengering.

Sukarnoto, mulai menekuni usaha beternak cacing sejak 8 bulan yang lalu. Berasal saat dirinya di ajak saudaranya yang lebih dulu beternak cacing. Lantas ia mengikuti seminar di Surabaya.

Namun saat awal praktek tak semudah yang ia bayangkan. Pria yang kesehariannya juga berprofesi sebagai pembuat meja belajar ini mengaku pernah hampir putus asa, lantaran teori yang di dapat dari seminar berbeda dengan yang ada di lapangan.

“Pertama mencoba sempat gagal mas, setelah saya panen cacingnya habis. Kalau menurut teori saat seminar, dua minggu sekali kotoran dari cacing harus dibuang dan harus diganti media (tanahnya), sedangkan di media tersebut ternyata masih banyak telur cacing yang nantinya bisa menetas lagi,” ucapnya saat di temui kabarjatim, belum lama ini.

Lantas, lanjut Karnoto, dengan kegigihannya ia tak patah semangat. Sisa kotoran cacing yang sudah dibuangnya yang bercampur tanah tadi ia kembalikan lagi ke tempat peternakan. Dan akhirnya cacing bisa menetas.

“Terus saya bingung, masak harus mengeluarkan modal lagi buat beli bibit cacing. Kamudian setelah seminggu, kotoran cacing yang sempat saya buang saya lihat, kok ada cacingnya. Akhirnya kotoran tadi saya kembalikan ke tempat peternakan dan Alhamdulillah sekarang bisa menjadi banyak tanpa harus beli bibit lagi,” imbuhnya.

Ia menambahkan, untuk omset penjualan sangat bagus, harga per kilo gram berkisar 25 ribu rupiah. Dalam satu bulan, ia bisa panen hingga 4 kwintal dari modal bibit awal 1 kwintal tersebut.

“Kalau musim kemarau harga bisa bagus sampai 25 ribu per kilo gramnya, kalau musim penghujan biasanya turun jadi 20 ribu per kilo, sebab kalau musim penghujan itu sangat bagus perkembangannya (cacing). Saya biasanya panen 2 minggu sekali, tapi ya separuh mas, yang separuh saya panen 2 minggu berikutnya,” tandasnya. “Hasil panen dikirim ke kota Malang, untuk campuran obat sama kosmetik,” pungkasnya.

Saat ini, Sukarnoto sudah memiliki tempat peternakan kurang lebih sebanyak 20 petak. Dan rencananya akan dikembangkan lagi, sebab ia masih mempunyai lahan kosong. Buah dari kegagalan adalah keberhasilan. Meski dianggap sangat mudah untuk melalukan budidaya cacing ini, namun Sukarnoto sebelumnya juga kerap mengalami kegagalan.

Pertama ia mencoba membeli bibit cacing sebanyak satu kwintal, dengan harga 50 ribu rupiah per kilo gramnya. Dengan memakai media dari kotoran hewan ternak yang sudah kering, dirinya membuat petak – petak berukuran 1 × 5 meter dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumahnya.

Untuk tiap petak di isi bibit cacing sebanyak 30 hingga 40 kilo gram. Dalam dua minggu, bibit cacing tadi tak lantas bisa di panen. Namun harus dikembangkan dulu, dengan cara tiap petak bibit yang sudah ada cacingnya diambil separuh dan dipindahkan ke petak yang masih kosong (baru). Nah di situ cacing – cacing tadi akan berkembang biak dan bertelur.

 *Caption:* _Sukarnoto Saat Memberi Makanan Pada Cacing (Aan Amrulloh/kabarjatim)

*Caption:* _Sukarnoto Saat Memberi Makanan Pada Cacing (Aan Amrulloh/kabarjatim)

Sebenarnya, untuk memperoleh hasil budidaya cacing yang bagus, untuk ukuran petak 1×1 meter cukup di isi dengan bibit cacing sebanyak 4-5 kilo garam saja. Supaya cacing bisa berkembang biak dengan cepat.

Kalau sudah bisa mengembang biakkan dan mempunyai banyak petak – petak. Maka cacing yang sudah besar bisa dipanen, sedangkan sisa – sisa yang masih kecil nantinya masih bisa dipanen kembali. Cara memberi makan cacing sendiri sangat sederhana dan mudah. Sehari cukup dikasih makan sekali saja, pagi atau sore. Cuma dengan sisa – sisa sayuran atau buah – buahan yang sudah busuk atau sudah dibuang.

Sayur dan buah buahan yang busuk tersebut selanjutnya di blender atau dihaluskan dan dicampur dengan air. Bisa juga dengan kotoran hewan ternak, seperti kotoran sapi atau kambing, kemudian dicampur dengan air.

Selanjutnya makanan tadi cukup di siramkan pada media yang ada cacingnya. Yang penting media ternak dalam keadaan lembab, maka perkembangan cacing akan bagus. Sedangkan untuk hama atau musuh dari peternak cacing yakni ayam, katak dan tikus. Sebab hewan – hewan tersebut yang biasanya merusak dan memakan cacing.

Cara panennya juga gampang, cukup dengan membalikan media (tanah) dengan tangan atau alat bantu seperti sekop kecil, maka cacingnya akan terlihat. Kemudian kita ambil cacing tersebut dimasukkan dalam tong plastik. Selanjutnya kita pisahkan antara cacing dengan tanahnya. Pisahkan juga antara cacing yang kecil dan yang besar.

Untuk ukuran cacing yang masih kecil selanjutnya dikembalikan ke media penangkaran untuk di besarkan. Cacing yang besar yang dijual. Sedangkan sisa dari tanah yang terpaut saat panen tadi juga harus dikembalikan ke kotak penangkaran, sebab disitu masih terdapat telur yang belum menetas.

Cacing tanah Lumbricus Rubellus sering disebut cacing ekor kuning. Warna tubuhnya agak terang dengan panjang cacing dewasa 10-14 cm. Cacing tanah berasal dari Eropa ini merupakan jenis cacing tanah yang paling banyak di budi dayakan di berbagai daerah. Di Eropa sendiri, cacing ini digunakan sebagai bahan baku untuk pengolahan produk dari cacing tanah, misalnya, Vermi Juice. Lumbricus juga banyak digunakan untuk industri farmasi dan kosmetik.

Editor : Nurul Arifin