Bendungan Bendo Akan Aliri 7.700 Hektar Sawah di Ponorogo dan Madiun

oleh -

PONOROGO – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meninjau progres pembangunan Bendungan Bendo di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Jumat (4/1/2018).

Bendungan multiguna dengan total luas genangan sebesar 169,64 hektar dibangun untuk meningkatkan suplai air irigasi seluas kurang lebih 7.700 hektar lahan pertanian yang berada di Kabupaten Ponorogo dan Madiun sebagai salah satu sentra pertanian di Jatim.

Presiden mengatakan, dengan daya tampung 43,14 juta m3 Bendungan Bendo diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam dari sekali menjadi hingga tiga kali tanam dalam satu tahun. “Bendungan ini sangat penting sekali selain untuk pengairan sawah-sawah, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan air baku warga sekitar,” ujarnya.

Selain Bendo, Presiden mengatakan, Pemerintah melalui Kementerian PUPR juga tengah membangun sejumlah bendungan lain di Provinsi Jatim yakni Bendungan Tukul, Tugu, Bagong, Semantok, dan Gongseng. “Banyak sekali dibangun di Jawa Timur karena memang diperlukan sebagai lumbungnya pangan Indonesia,” ujar Presiden Jokowi.

Manfaat lain yang bisa dirasakan masyarakat adalah menjadi sumber air baku domestik dan industri berkapasitas 790 liter/detik bagi Kabupaten Madiun sebesar 418 liter/detik dan Ponorogo 372 liter/detik. Selain itu akan mereduksi debit banjir Kota Ponorogo dari 1.300 m3/detik menjadi 400 m3/detik.

Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan pembangunan Bendungan Bendo ditargetkan selesai akhir tahun 2019 dimana progresnya saat ini sudah 77 persen.
“Pekerjaan telah dimulai sejak tahun 2013 sempat tertunda karena masalah pembebasan lahan. Namun saat ini progres pembebasan lahannya sudah mencapai 94 persen, sudah bebas seluas 277 hektare dari 295 hektar lahan yang dibutuhkan,” kata Hari.

Bendungan setinggi 71 meter dengan tipe urugan ini membendung Sungai Keyang yang merupakan anak sungai Bengawan Madiun (anak sungai Bengawan Solo). Pembiayaan menggunakan APBN sebesar Rp 716,58 miliar yang dikerjakan oleh PT. Wijaya Karya, PT. Hutama Karya dan PT. Nindya Karya (KSO).