BCN bersama MAPALA dan SISPALA Se-Bojonegoro Gelar Diskusi Kelestarian Alam

oleh -
Suasana Diskusi BCN bersama MAPALA dan SISPALA Se-Bojonegoro (Foto : M Arifin/Kabarjatim)
Suasana Diskusi BCN bersama MAPALA dan SISPALA Se-Bojonegoro (Foto : M Arifin/Kabarjatim)

BOJONEGORO– Sejumlah pemuda yang tergabung dalam komunitas Bojonegoro Creatif Center (BCN), Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) dan Siswa Pecinta Alam (SISPALA) se-Bojonegoro menggelar diskusi tentang lingkungan hidup dengan nama kegiatan Berbincang Biasa Saja (BERBISA).

Diskusi ini digelar di halaman gedung Pusat Pameran Industri Kreatif (PPIK) di jalan vetran, pada Sabtu (9/6/2018) dengan mengusung tema “Lestari Alamku”.

Salah satu panitia, Radinal mengutarakan, tema ini diangkat untuk membangun sinergitas para pegiat lingkungan dalam menjaga kelestarian alam. Selain menikmati, tentunya para pemuda harus mempunyai kepedulian lingkungan.

“BCN sendiri sebenarnya memiliki enam belas sub sektor program, salah satunya mengenai lingkungan hidup. Bagaimana mengembangkan ide kreatif tentang alam yang nantinya selain dapat menjadi nilai jual juga mampu mengedukasi tentang kelestarian alam,” katanya.

Diskusi ini, terangnya, dijadwalkan setiap dua minggu sekali dengan tujuan mewadahi komunitas-komunitas yang ada di Bojonegoro untuk sekedar sharing mengenai perkembangan dunia kreatif. Namun karena beberapa kendala teknis, jadwal kegiatan tidak dapat ditentukan dengan pasti hari pelaksanaanya.

“Diskusi kali ini sudah yang kelima kalinya. Sebelumnya kita mendatangkan mbak Dian Kresna pemilik produk makanan asli Bojonegoro yang sudah go internasional,” jelas pemuda yang menjabat di bendhara BCN ini.
Acara “berbisa” ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan. Selain dari mapala dan sispala, hadir juga, aktivis pariwisata dari IPB, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Humas ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), wartawan, komunitas seni dan komunitas pecinta musik hardcore.

Salah satu peserta yang hadir, direktur LSM Bojonegoro Institute, Aw Saiful Huda menyatakan sangat mengapresiasi atas dilaksanakanya acara diskusi semacam ini. Namun dia juga menyayangkan, menurut Aw, apa yang dilakukan oleh komunitas-komunitas pecinta alam hanyalah sebatas penikmat alam, belum mampu menyentuh titik sebagai pelestari alam.

“saya rasa teman-teman komunitas pecinta alam masih terpaku me-explore keindahan alam, namun masih sangat jarang mengkaji filsafat dari alam tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, diskusi ditutup dengan pembahan mengenai kepariwisataan. Penataan wisata yang ada di Bojonegoro agar mampu menggali lebih dalam potensi yang dimiliki. Saat ini, Bojonegoro memiliki beberapa potensi wisata yang sedang berkembang. Namun, dalam pengembangan infrastuktur penunjang memang belum memadai. “texas wonocolo sebagai satu-satunya lokasi wisata energi pertama di dunia,” jelas Afru, alumni IPB sebagai penyaji sesi terakhir. @VIN