Alasan Bawaslu Hadirkan Pasangan Kelana – Dwi Astutik ikuti Deklarasi Damai dan Penandatanganan Pakta Integritas

oleh -

SIDOARJO: Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Sidoarjo membeber alasan Pasangan calon Kelana Aprilianto – Dwi Astutik mengikuti deklarasi sekaligus penandatanganan pakta integritas pemilu damai yang digelar di Fave Hotel Sidoarjo. Padahal, hingga saat ini pasangan yang diusung PDI P dan PAN tersbeut belum ditetapkan KPUD Sidoarjo.

Deklarasi Pakta Integritas dihadiri tiga pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Sidoarjo. Nampak hadir juga Forkopimda Sidoarjo.

Ketua Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Sidoarjo, Haidar Munjid mengatakan penandatanganan pakta integritas terhadap tiga pasangan calon sebagai bentuk deklarasi pemilihan kepala daerah tahun ini akan berjalan damai. Meski dalam situasi pandemi covid-19, pelaksanaan pilkada Sidoarjo harus tetap berjalan aman, damai, sehat, jujur dan adil.

“Ini upaya kami untuk mencegah baik paslon, tim sukses maupun pendukungnya agar tidak melakukan black campaign, menimbulkan keributan, maupun membawa isu SARA saat pelaksanaan Pilkada,” ujar Haidar Munjid saat dihubungi, Jumat, 25 September 2020.

Disinggung soal kehadiran Kelana dan Dwi Astutik dalam penandatanganan pakta integritas tersebut, pihaknya mengaku jika pasangan calon tersebut hanya sebagai tamu undangan saja.

“Hadir sebagai undangan. Diskenario awal memang kita tidak undang mereka karena belum ditetapkan. Nah, ternyata sama teman-teman kesekretariatan undangan sudah lebih dulu disebar,” jelas Haidar.

Meski demikian, pasangan Kelana-Dwi Astutik yang turut hadir dalam deklarasi tersebut juga melakukan penandatanganan pakta integritas. Padahal, penandatangan pakta integritas tersebut seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah ditetapkan oleh KPU Sidoarjo.

“Jadi, kebetulan ada space kosong, ya kita suruh tanda tangan saja. Tidak ada penyebutan pasangan nomor tiga, enggak ada itu. Karena dia hadir sebagai undangan. Yang hadir semua kita minta tanda tangan termasuk pak kelana, forkopimda, FKUB dan lainnya,” tegasnya.

Lebih lanjut Haidar menjelaskan, tanda tangan yang dilakukan pasangan Kelana dan Dwi Astutik di Space kosong tidak tercantum nama terang dan nomor urut pasangan calon tersebut. Berbeda dengan pasangan nomor urut 1 yang tertera nama terang Bambang Haryo Sukartono-Taufiqulbar dan Pasangan Achmad Muhdlor Ali-Subandi di nomor urut 2.

“Untuk yang dua paslon sudah kita cetak nama terang dan nomor urutnya, sedangkan pak kelana kebetulan ada space kosong ya kita suruh tanda tangan saja,” tegasnya.

Sementara Ketua KPU Sidoarjo, Muhammad Iskak mengaku belum mengetahui betul persoalan tersebut. Sebab kegiatan deklarasi penandatanganan pakta integritas ada pada kewenangan Bawaslu.

“Itu terkait dengan skema kewenangan bawaslu mengundang (kelana-dwi astutik) itu. Saya tidak dikonfirmasi. Saya juga tidak tahu kalau mereka akan hadir. Tapi mungkin bawaslu bagus juga, karena seluruh yang daftar (calon) diundang semua. Tapi ketika tanda tangan seharusnya tadi tidak begitu juga,” ujar Muhammad Iskak.

Meski demikian, lanjut Iskak, berdasarkan aturan KPU sudah jelas, terkait penandatanganan pakta integritas seharusnya disampaikan kepada calon yang sudah ditetapkan oleh KPU.

“Idealnya yang bertanda tangan pakta integritas adalah mereka yang sudah ditetapkan oleh KPU. Tapi kami juga tidak tahu pertimbangan bawaslu terkait kegiatan tadi yang melibatkan paslon yang sudah daftar ke KPU tapi belum ditetapkan,” jelasnya.

Lantas, apakah kegiatan tersebut melanggar aturan?, Pihaknya belum bisa berasumsi banyak. “Kalau saya tidak bisa melihat apakah ini melanggar atau tidak. Tapi mungkin maksud dari bawaslu juga baik. Baiknya bisa dikumpulkan bersama-sama yang daftar,” terangnya. NOE