720 Anak di Jawa Timur Positif Covid-19

oleh -
Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Jember Lantin Sulisytorini

Jember – Virus Corona tak pandang bulu menyerang siapa saja termasuk anak-anak. Di Jawa Timur tercatat 720 anak positif Covid-19.

Erwin Bagus Hadi Sasongko, perawat di Instalasi Perawatan Anak Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya, mengatakan di kala pandemi Covid-19 orangtua dan tenaga medis perlu mewaspadai gejala ISPA pada anak sebab bisa jadi juga gejala Covid-19.

“Anak dengan segala keterbatasan yang ada, tanpa disadarinya bisa menularkan Covid-19 ke anggota keluarga lainnya sehingga muncul klaster keluarga. Menurut data tanggal 20 September lalu, dari 240 ribu lebih penderita Covid-19 di Indonesia, sebanyak 2,4 persen adalah anak-anak. Sementara di Jawa Timur ada sekitar 720 anak yang positif Covid-19,” tutur Erwin di kegiatan webinar nasional keperawatan di Gedung Soetardjo, Jember, Rabu (23/9).

Jika Erwin memberi perhatian lebih terhadap Covid-19, Ira Rahmawati, dosen dan peneliti dari Fakultas Keperawatan (FKep) Universitas Jember, mengungkap fakta mengejutkan tentang ISPA di wilayah Tapal Kuda. ISPA menjadi penyakit yang mendominasi anak usia 0 hingga 5 tahun di wilayah Besuki Raya atau yang dulu dikenal sebagai Karesidenan Besuki atau wilayah Tapal Kuda berdasarkan data penelitian tahun 2017-2018. Dari 810 anak yang diteliti di tujuh rumah sakit, sebanyak 44,8 persen menderita ISPA, disusul dengan penyakit diare dan kejang akibat demam.

Menurut Ira Rahmawati, masih perlu penelitian lanjutan mengapa ISPA mendominasi penyakit pada anak di wilayah Besuki Raya yang merupakan wilayah agraris ini. Namun temuan ini menjadi landasan bagi FKep Universitas Jember untuk memberikan perhatian lebih kepada ketiga penyakit tersebut dalam bentuk pemberian mata kuliah bertema ketiga penyakit tersebut.

Selain penyakit lain yang banyak diderita anak seperti penyakit akibat keracunan dan penyakit khas daerah tropis seperti tipes dan demam berdarah.

“Berdasarkan hasil penelitian tadi, maka FKep Universitas Jember memberikan mata kuliah yang fokus kepada perawatan penyakit ISPA, diare, dan kejang akibat demam di rumpun mata kuliah Keperawatan Anak kepada mahasiswa. Mata kuliah tersebut sekaligus menjadi pembeda dengan Fakultas Keperawatan lainnya karena kami yang ada di wilayah pertanian-perkebunan, atau istilahnya Agronursing,” jelas Ira Rahmawati.

Sementara itu Prof. Yeni Ruslina dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia mengingatkan salah satu tantangan bagi perawat di masa pandemi Covid-19 saat ini adalah memberikan perawatan bagi bayi yang baru lahir.

Pasalnya di masa saat ini intensitas layanan tatap muka seperti pemberian imunisasi dan perawatan bagi bayi yang lahir prematur selepas dari fasilitas kesehatan jauh berkurang. Padahal masa seribu hari pertama dalam kehidupan seorang anak adalah masa emas, jika keliru penanganan maka berdampak pada tumbuh kembang anak.

“Oleh karena itu harus ada jalinan komunikasi yang baik antara perawat dan sang ibu beserta keluarganya agar jika ada masalah selepas meninggalkan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit bisa ditangani dengan baik. Perawat pun harus memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan kepada pasien,” ujar pakar perawatan bayi prematur ini.

Kegiatan webinar dibuka secara resmi oleh Iwan Taruna, Rektor Universitas Jember. Dalam pidato pembukaannya, Iwan Taruna meminta peserta yang kebanyakan mahasiswa Fakultas Keperawatan dan tenaga medis agar tidak berputus asa dalam menjalakan tugas mengatasi Covid-19 dan tak lelah menyosialisasikan kebiasaan baru di era kenormalan baru.
Sementara itu dalam sambutannya, Lantin Sulistyorini, Dekan FKep Universitas Jember mengungkapkan tema perawatan anak di tengah pandemi Covid-19 dipilih karena pentingnya menjaga kesehatan anak sebagai generasi penerus bangsa.

“Selain itu, kebijakan belajar di rumah bagi anak memiliki dampak fisik maupun psikis yang harus kita tanggulangi bersama,” ungkap Lantin Sulistyorini.