7 Sikap Pesantren Tebuireng Atas Pembakaran Bendera HTI

oleh -

JOMBANG – Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid menggelar konferensi pers terkait pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Banser saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Saya menyesalkan dan menganggap tidak etis peristiwa yang terjadi pada acara HSN di Garut,” ujar Gus Sholah mengawali sikapnya di Dalem Kasepuhan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu 27 Oktober 2018.

Gus Sholah lantas menjelaskan ada 7 poin sikap Pondok Pesantren Tebuireng terhadap aksi tersebut mulai dari pembakaran bendera yang dilakukan oleh oknum banser hingga penyusupan yang dilakukan oleh oknum saat peringatan hari santri di Kabupaten Garut. Berikut isi pernyatan sikap tersebut:

1. Menyesalkan terjadinya peristiwa itu yang dimulai dari penyusupan seseorang yang membawa Bendera bertuliskan kalimat La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah pada acara hari santri nasional, yang kemudian dirampas dan dibakar oleh oknum banser. Peristiwa itu menimbulkan dampak kegaduhan secara nasional.

2. Persepsi masyarakat atas peristiwa tersebut ada dua yakni, menyatakan tindakan oknum Banser itu tidak bisa dibenarkan dan persepsi kedua menyatakan tindakan itu benar sebagai antisipasi terhadap bahaya yang lebih besar.

3. Sebagian masyarakat cukup besar jumlahnya merasa tidak nyaman bahkan marah akibat tindakan tersebut.

4. Tindakan penyusupan pada acara hari santri nasional dan tindakan pembakaran itu tidak etis.

5. Menghargai permohonan maaf oleh oknum Banser dan penyusup bendera tersebut.

6. Menyerukan kepada kepolisian untuk menindaklanjuti proses hukum secara tuntas terhadap peristiwa penyusupan pada hari santri nasional tersebut

7. Menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu persatuan bangsa.

“Saya mengimbau kepada semua pihak supaya menahan diri agar persatuan Bangsa tetap terjaga,” tegas Gus Sholah.

Editor: Ahmad Saefullah