4 Pilar Pendidikan UNESCO Mulai Disosialisasikan ke Pesantren

oleh -

Bangkalan – Firman Syah Ali menyampaikan pemaparan tentang 4 Pilar Pendidikan UNESCO di dua pondok pesantren, yaitu Pondok Pesantren Darul Hikmah Langkap Burneh Bangkalan dan Pondok Pesantren Nurul Amanah Al-Makki Tragah Bangkalan.

Pemaparan di Pondok Pesantren Darul Hikmah dihadiri oleh salah satu Pengasuh Pesantren yaitu KH Imamul Muttaqin Jauhari. Usai menyampaikan paparan, Firman Syah Ali yang akrab dipanggil Cak Firman melalukan kegiatan memanah bersama warga pesantren Darul Hikmah.
Sedangkan pemaparan di Pondok Pesantren Nurul Amanah Al-Makki dihadiri oleh Pengasuh KH Jazuli Nur Lc yang juga merupakan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.

Firman Syah Ali menyampaikan bahwa menurut UNESCO pilar pendidikan ada 4 yaitu learn to know, learn to do, learn to be dan learn to live together. Cak Firman berharap 4 pilar itu tegak dengan kokoh di pondok pesantren agar pesantren bisa menjadi pelopor kemajuan pendidikan dan kejayaan peradaban bangsa.

“Kelebihan pendidikan di ponpes adalah doktrin kemandirian pendidikan dan long life education, sehingga sangat kondusif untuk learn to know,” ucap Pengurus Harian LP Ma’arif NU Jawa Timur ini.

Cak Firman melanjutkan bahwa Belajar untuk mengetahui (learn to know) akan percuma kalau tidak ditindaklanjuti dengan Belajar untuk mengerjakan (learn to do). Belajar untuk mengerjakan adalah belajar tentang skill, baik hard skill maupun soft skill. Soft skill terkait erat dengan attitude.

“Learn to know dan learn to do juga percuma jika tidak ada upaya lear to be, bagaimana kita menjadi orang sukses sesuai dengan minat dan bakat kita, sesuai dengan passion kita,” tutur Bendahara Umum IKA PMII Jatim ini.

Pilar terakhir adalah learn to live together, yaitu proses pembelajaran bagaimana kita hidup bermasyarakat, membangun harmoni dan sinergi. Hidup bermasyarakat butuh keterbukaan dan toleransi, karena tatanan masyarakat global semakin beragam. Jangan menjadi kaum radikal yang anti keberagaman, yang selalu hancurkan nilai-nilai sosial.

“Contoh kurang baik dalam kehidupan bermasyarakat saat ini adalah pengeboman gereja, penolakan gedung bioskop, penyerbuan masjid, pengusiran suku tertentu dari sebuah daerah dan lain sebagainya, itu semua terjadi karena kita tidak pernah mau belajar tentang bagaimana hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan, serta menganggap perbedaan itu sebagai sebuah keindahan” pungkas keponakan Mahfud MD ini.