3 Tipe Wisatawan Indonesia: Cermat, Terjadwal dan Spontan

oleh -
Photo by Muhammad Rahmat Yulianto from Pexels

Gaya berlibur masyarakat Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu wisatawan cermat, wisatawan terjadwal dan wisatawan spontan. Apa saja ciri-ciri khas mereka? Yuk simak ulasannya di bawah ini:

Pertama, wisatawan cermat/meticulous traveller – dengan ciri utama melakukan pemesanan tiket pesawat empat minggu (bahkan lebih) dari tanggal keberangkatan, dan reservasi kamar hotel 3-4 minggu sebelumnya.

Tipe ini bersedia melakukan riset perbandingan harga kamar dan hotel secara detail demi menemukan harga terbaik, bahkan rela menunggu promosi. Mereka juga sudah menyusun rencana perjalanan liburan secara komplet. Meticulous traveller biasanya lebih memprioritaskan waktu berwisata bersama keluarga.

Kedua, wisatawan terjadwal/scheduled traveller; membuat perencanaan perjalanan 1-2 pekan sebelum bepergian. Untuk durasi berwisata yang pendek, tipe ini lebih mengutamakan reservasi akomodasi terlebih dahulu, baru kemudian memilih moda transportasinya.

Sedangkan untuk periode bepergian yang panjang, mereka mengutamakan moda transportasinya dulu, lalu hotel. Dari segi komposisi, traveller tipe ini terdiri atas 60% pria dan 40% wanita, dan melakukan wisata bersama teman.

Ketiga, wisatawan spontan/spontaneous traveller (mayoritas pria, 70%) – yang seringkali bepergian tanpa ada perencanaan khusus; malah terkesan impulsif tergantung momen dan lingkungan di sekitar mereka. Tipe ini biasanya memesan akomodasi inap sehari sebelum keberangkatan, dan tidak memiliki rancangan perjalanan sama sekali. Spontaneous traveller cenderung memilih staycation dan bepergian sendiri.

Airy, perusahaan Accommodation Network Operator (ANO) di Indonesia, berkolaborasi dengan YouGov Research melalui laporan terbarunya: “Airy Budget Travel Insight 2020” mengungkap temuan baru kebiasaan masyarakat Indonesia, yaitu 2020, Slow Travelling Mulai Populer.

Menyorot tren bepergian 2020, Airy memprediksi bahwa traveller Indonesia bersedia menghabiskan waktu bepergian yang lebih panjang, atau slow traveller. Masyarakat Indonesia menyadari bahwa travelling bukan lagi untuk memenuhi bucket list berwisata saja. Namun, lebih dari itu, menjadi momen penyegaran diri dan quality time bersama orang-orang terdekat.

Karenanya, mereka justru meminati destinasi wisata yang lebih sepi, alias bukan yang sedang populer, dan ingin mengeksplorasi tempat-tempat yang selama ini tidak banyak diketahui publik.

“Karenanya, aktivitas road trip termasuk akan bertumbuh, dan kereta akan menjadi moda yang semakin banyak dipilih untuk berwisata khususnya di Pulau Jawa,” terang Ika Paramita, VP Marketing Airy. Ini senada dengan temuan Booking.com, bahwa 51% traveller mengaku mau berganti tujuan wisatanya ke lokasi yang lebih tidak terkenal.

Backpacking Masih Menarik Bagi Milenial

Secara khusus temuan Airy juga menyorot kalangan milenial yang menjadi kelompok usia dominan di Indonesia. Sebanyak 30% wisatawan milenial masih gemar menjalankan backpacking trip. Ini sesuai dengan karakter mereka yang adventurous, dan cenderung menjadikan kegiatan traveling sebagai aktivitas untuk menghilangkan stres.

Selain itu, staycation semakin dilirik. Dengan para milenial yang saat ini berada di posisi manajerial, tekanan profesi bisa berpengaruh pada kepenatan diri. Menginap singkat di tengah kota dirasa membantu mereka mendapatkan waktu rileks. Ini tampak dari sekitar 20% milenial yang meminati eskapisme akhir pekan/weekend getaway.