AJI Jember Desak Polisi Proses Hukum Pemerasan Berkedok Wartawan

oleh -

JEMBER – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember mendukung polisi memproses hukum dua pelaku pemerasan berkedok wartawan.

Para pelaku memeras seorang pria yang keluar dari hotel bersama wanita disertai ancaman akan mempublikasikan perbuatannya. Kepada korban pelaku, M Abdullah dan Mohammad Erwin meminta uang Rp17 juta, namun hanya diberi Rp3 juta.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember Ira Rachmawati menyatakan unsur pemerasan sangat bertolak belakang dengan kerja-kerja profesi wartawan.

“Setiap jurnalis akan selalu terikat dengan kode etik jurnalistik (KEJ) yang cukup ketat. Sehingga cara kerja jurnalis sangat jauh berbeda dengan pihak-pihak yang melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan profesi wartawan,” ujar Ira Rachmawati melalui siaran pers, Rabu (16/06/2021).

Dalam KEJ pasal 1 ditegaskan, bahwa wartawan tidak boleh beriktikad buruk dalam melakukan peliputan. Artinya, wartawan tidak boleh memiliki niat secara sengaja untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

“Selain itu, peliputan juga tidak boleh masuk pada ranah privasi seseorang. Jurnalis yang profesional digaji oleh medianya, bukan dengan cara meminta kepada narasumber,” tutur Ira.

Selain itu, dalam pasal 2 KEJ juga ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara yang profesional dalam melakukan peliputan.

“Sehingga dalam melakukan wawancara harus secara patut, tidak dengan mengancam. Tidak bisa hanya dengan berbekal kartu pers yang bisa di cetak di mana saja, lantas merasa bisa melakukan perbuatan semena-mena seperti pengancaman,” kata Ira.

Karena itu, AJI Jember juga menilai, pihak yang melakukan pemerasan tidak bisa berlindung dengan menggunakan dalih kebebasan pers maupun UU Pers. “Kami menilai, ini masuk pidana murni sebagaimana yang diatur dalam KUHP,” tutur Ira.

Melalui kasus ini, AJI Jember juga mengajak semua pihak untuk berani bersikap tegas menolak pemerasan atau permintaan tertentu dengan ancaman pemberitaan, oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan jurnalis.

“Selama ini kami kerap menerima keluhan yang disampaikan secara tidak langsung (bukan oleh korban langsung) tentang ulah pihak yang mengatasnamakan wartawan dan melakukan tindakan yang jauh dari profesi jurnalis profesional. Tidak semua berani melawan atau melapor. Sehingga terjadi pembiaran yang pada akhirnya merusak citra jurnalis di masyarakat umum,” ucap Ira.

AJI Jember juga siap menerima keluhan masyarakat yang merasa bimbang menghadapi pihak tertentu yang diduga melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan profesi wartawan.

Wilayah kerja AJI Jember meliputi Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso. “Pengaduan bisa dilakukan baik kepada pengurus AJI Jember maupun melalui kanal media sosial instagram (@ajijember) yang dimiliki oleh AJI Jember,” kata Ira.

No More Posts Available.

No more pages to load.