Haji Tinggal 1,5 Bulan, Menag: Arab Saudi Belum Beri Kepastian

oleh -

JAKARTA – Kementerian Agama Republik Indonesia hingga saat ini belum menerima kepastian dari kerajaan Arab Saudi mengenai pelaksanaan ibadah haji 1442 H atau 2021 M. Padahal, puncak ibadah haji akan tiba tidak lama lagi.

Hal itu dikatakan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (31/5/2021). “Pemerintah kerajaan Arab Saudi hingga saat ini masih belum memberikan kepastian,” ujar Gus Yaqut dalam sidang yang disiarkan dalam YouTube.

Dengan demikian, masih belum jelas apakah haji pada tahun ini akan sama dengan haji tahun kemarin. “Sekali lagi (Arab Saudi) belum memberikan kepastian apakah penyelenggaraan haji 1442 H akan dilaksanakan seperti halnya tahun 2020 lalu yaitu hanya jemaah dalam negerinya atau akan mengundang dari negara lain,” ucapnya.

Padahal, Gus Yaqut menjelaskan, jika dihitung dari batas waktu penutupan Bandara Arab Saudi pada 4 Dzulhijjah atau 14 Juli 2021, sisa waktu yang tersisa hanya tinggal 1,5 bulan. Kendati demikian, Kemenag telah membuat skenario pembatasan kuota haji mulai 50 persen, 30 persen, 25 persen, 20 persen hingga 5 persen dari kuota normal.
Hal itu untuk menentukan finalisasi persiapan haji termasuk proses pelunasan kontrak perjalanan, pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BIPIH), penyiapan dokumen perjalanan hingga bimbingan manasik.

Berdasarkan skenario keberangkatan jamah haji Indonesia untuk kuota haji reguler apabila tenggat waktu maksimal pemberian kuota pada 28 Mei 2021, yakni sebanyak 1,8% atau 3.660 jemaah dengan 12 kloter untuk pemberangkatan pada tanggal 13 Juli 2021.

Skema kuota 1,8% dari kuota normal 221.000 mengacu pada informasi mengenai kemungkinan besar and kota haji untuk jemaah dari luar Arab Saudi sebanyak 45 ribu dari jumlah normal yaitu 2,6 juta yang berasal dari Arab Saudi dan luar Arab Saudi.
Mengenai daftar negara yang sudah diperbolehkan warganya masuk Arab Saudi di tengah pandemi, menurut Gus Yaqut, penanganan Covid-19 Indonesia termasuk relatif bagus.

“Karena kalau di dasar urutan USA merupakan peringkat pertama penanganan Covid terburuk di dunia, Prancis ke delapan, Italia sembilan terburuk, Jerman 17 terburuk dan Indonesia mending 19 rankingnya. Jadi masih ada rangking di atas buruk-buruk itu,” ujar Gus Yaqut.

Sementara terkait vaksin, Menag merespons bersama Kemenkes untuk mengusahakan agar mendapat salah satu dari empat vaksin yang di syaratkan yakni Johnson and Johnson. “Johnson and Johnson diusahakan, karena tiga vaksin yang lain agak sulit secara teknis. kita bersama Kemenkes sudah mendapat komitmen agar mendapatkan vaksin untuk jemaah haji,” kata Menag.

No More Posts Available.

No more pages to load.