Universitas Jember Berpartisipasi dalam Asian Waterbird Census Indonesia 2021

oleh -

Jember – Kelompok Studi Ornithology yang terdiri dari mahasiswa Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Jember berpartisipasi dalam kegiatan Asian Waterbird Cencus (AWC) Indonesia 2021 atau monitoring burung pantai Indonesia dan pendataan burung air.

AWC Indonesia adalah sensus burung air Asia yang dilaksanakan di Indonesia yang bertujuan untuk mendukung pemutakhiran data serta peningkatan kapasitas dan penyadartahuan publik tentang nilai penting burung air dan habitatnya di Indonesia.

“Kami memahami bahwa AWC Indonesia 2021 dilaksanakan pada masa pandemi sehingga kami menekankan kepada seluruh sukarelawan untuk dapat menerapkan protokol kesehatan secara ketat sesuai aturan yang ditetapkan oleh pemerintah,” ujar Koordinator Penyelenggaran Sensus Abdu Rohman melalui siaran pers.

Dalam monitoring ini tercatat beberapa jenis burung air seperti Dara Laut Biasa (Sterna hirundo), Dara Laut Kecil (Sternula albifrons) Dara LAUT JAMBUL (Thalasseus bergii), Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Kuntul Karang (Egrettasacra), Kuntul Kecil (Egrettagarzetta), Blekok Sawah (Ardeolaspeciosa).

Selain itu terdapat jenis burung lain yang teramati di antaranya Cekaka Sungai, Raja Udang Meninting, Merbah Cerucuk, Layang-Layang Asia, Walet Linci, Bondol Jawa, Cinenen Kelabu.

Kehadiran jenis dan jumlah burung air, ujar Abdu Rohman, tahun ini lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Beberapa faktor yang membuat kehadiran burung di lokasi ini lebih sedikit karena tingginya aktivitas di sekitar area persinggahan burung pantai seperti lalu lalang kapal nelayan, pencari ikan dengan menjaring di sepanjang muara dan pantai membuat adanya gangguan terhadap kehadiran burung air disekitar pesisir pantai selatan Puger, Getem. “Kemudian ditambah adanya aktivitas wisata baru di pantai cemara oleh wisatawan lokal yang berdatangan,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi salah satu perangkat bagi upaya konservasi burung air serta lahan basah sebagai habitatnya dengan melibatkan para sukarelawan. Data dan informasi tersebut kemudian digunakan sebagai rujukan estimasi populasi burung air secara global maupun untuk keperluan pengelolaan ditingkat nasional/lokal, tidak kurang dari 5 juta km2.

Status sejumlah 871 jenis burung air kemudian dikaji secara ilmiah untuk menentukan kegiatan pengelolaannya. Di Indonesia, data mengenai populasi digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan beberapa Taman Nasional penting, penentuan lokasi penting untuk Konvensi Ramsar dan East Asian Australasian Flyway Partnership serta penentuan status jenis-jenis yang dilindungi.

Sejak tahun 1986, Yayasan Lahan Basah atau Wetlands International Indonesia telah mengoordinasi pelaksanaan program Asian Waterbird Census (AWC) di seluruh Indonesia. Pada tahun 2021, kegiatan citizenscience AWC Indonesia berkolaborasi dengan kegiatan Monitoring Burung Pantai Indonesia (MoBuPi) serta secara bersama-sama diselenggarakan oleh Yayasan Lahan Basah atau Wetlands International Indonesia, Yayasan Ekologi Satwa Alam Liar Indonesia, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, dan Burungnesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.