Whisnu Diminta Tidak Keluarkan Izin Operasi RS Covid di Area Mall Cito

oleh -

SURABAYA: Perkumpulan Pemilik, Penyewa, dan Pedagang (P4) di mall City of Tomorrow (Cito) beserta pemilik dan penghuni Apartemen Aryaduta Cito Surabaya, masih menolak rencana pembukaan rumah sakit (RS) darurat Covid-19.

Sekretaris P4 Cito, M Yazid menyampaikan, keberatan kepada Whisnu terkait pembukaan RS Darurat tersebut. Pasalnya, keberadaan RS Darurat memberi dampak ekonomi terhadap pemilik usaha yang ada di mall.

Yazid mengaku keberadaan RS Darurat penting di masa pandemi ini, namun ia menilai tidak bisa kemudian didirikan di area pusat perbelanjaan karena berdampak bagibl sektor ekonomi. “Ini sentral ekonomi banyak yang mengharapkan, sekarang banyak SPG yang mau keluar karena takut, kemudian sekarang income kita nol karena gak ada pengunjung di satu sisi kita tetap harus bayar service charge kalau telat bayar ditutup,” kata Yazid, di lobby Mal Cito Surabaya, Kamis (11/2/2021).

Ia membeberkan, ada beberapa kendala apabila dipaksakan tetap dibuka. Salah satu yang paling parah adalah, saluran udara yang masih jadi satu dengan apartemen dan mall. Karena itu, ia mendesak agar Pemkot Surabaya tidak mengeluarkan izin operasional kepada RS Siloam. “Sejak 2014 sampai 2019 Bu Risma sudah nolak, jangan sampai Pak Whisnu baru sesaat dan mau landing justru memberi izin. Kami minta tolong pak dibantu,” kata Yazid.

Plt Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, menyatakan ada syarat wajib RS Siloam di area Mall Cito, agar bisa beroperasi untuk melayani pasien Covid-19. Syarat utama itu adalah mendapatkan persetujuan tenant mall dan penghuni apartemen, dan menjamin mereka merasa aman dengan adanya rumah sakit tersebut. “Keamanan dan keselamatan warga Surabaya adalah hukum tertinggi. Kalau soal persyaratan teknis biar tim teknis yang menyelesaikan,” kata Whisnu.

Jika syarat utama terpenuhi, Whisnu meminta pihak RS Siloam menyiapkan dinding sebagai pembatas, antara RS dan mall maupun apartemen. Tujuannya untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi warga sekitar. “Tadi saya melihat dindingnya bukan tembok, tapi partisi,” katanya.

Whisnu mengaku pihaknya sempat meminta RS di komplek Cito itu beroperasi, karena kasus Covid-19 di Surabaya saat itu sangat tinggi. Sementara tingkat keterisian rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) hampir 100 persen. “BOR kita saat itu hampir 100 persen selama dua pekan,” kata Whisnu. NOE

No More Posts Available.

No more pages to load.