10 Tanda Pria Kekurangan Hormon Testosteron, Cek Punyamu Ya

oleh -

JAKARTA – Kekurangan hormon testosteron banyak terjadi pada pria usia 40 tahun ke atas. Dimulai dari usia 30 tahun akan terjadi penurunan hormon testosteron seiring bertambahnya usia yang mengakibatkan terjadi penurunan kadar hormon testosteron dalam tubuh seorang pria.

“Penurunan ini sekitar 2 – 3% per tahun. Maka di usia 40 tahun kadar testosteron menjadi sekitar 65 – 70% dan pada usia 60 tahun ke atas sekitar 45 – 50% dari usia 25 tahun,” ujar spesialis andrologi Dokter Nugroho Setiawan, MS, Sp.And, melalui siaran pers PT Bayer Indonesia yang diterima Kabarjatim.com, Senin (18/11/2019).

Data dari sebuah studi menunjukkan bahwa terdapat 38,7% pria dengan usia di atas 45 tahun memiliki kadar testosteron kurang dari kadar normalnya yaitu, kurang dari 300nanogram/desiliter (ng/dL)1. Ironisnya, banyak pria yang mengalami kekurangan hormon testosteron tidak menyadari penyakitnya.

Menurut Dokter Nugroho, deteksi awal kekurangan hormon testosteron dapat dilakukan dengan memperhatikan gejala yang dialami. Berdasarkan ADAM questionnaire, pria harus waspada terhadap gejala berikut ini:

Penurunan dorongan seksual akhir – akhir ini

Lemas / kurang tenaga

Daya tahan / kekuatan fisik menurun

Tinggi badan berkurang

Kenikmatan hidup menurun

Mudah kesal / marah

Disfungsi ereksi

Penurunan kemampuan olahraga

Sering mengantuk / tertidur sesudah makan malam

Penurunan prestasi kerja

Jika pria mengalami gejala No.1 atau No.7 atau tiga gejala lain, pria tersebut mungkin kekurangan hormon testosteron. “Pria yang mengalami gejala – gejala kekurangan hormon testosteron harussegera berkonsultasi dan memeriksa kadar testosteronnya untuk mendapatkan terapi sulih hormonsehingga kualitas hidup juga menjadi lebih baik,” kata Dr.Nugroho.

Dr. Nugroho menjelaskan, ”Tujuan terapi sulih hormon testosteron adalah untuk mengembalikan kadar testosteron ke tingkat normal. Penelitian membuktikan bahwa terapi sulih hormon testosteron dapat memperbaiki setiap komponen sindrom metabolik3-4. Banyak pasien yang saya berikan injeksi testosteron jangka panjang mengalami penurunan lingkar pinggang, penurunan berat badan, perbaikan gula darah, serta perbaikan lemak darah.“

Rendahnya hormon testosteron dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan psikologis, gangguan metabolik, gangguan kardiovaskular, gangguan seksual, permasalahan fisik, serta risiko kematian yang lebih tinggi.5-10

Dr.Nugroho mengingatkan, pemberian testosteron adalah tanggung jawab Dokter. Tentunya Dokter akan memilih obat resmi yang telah disetujui Badan POM, memiliki efektivitas tinggi, efek samping yang ringan, pemberiannya nyaman untuk pasien dan tidak mempunyai kontra-indikasi.

“Injeksi Testosterone Undecanoate jangka panjang biasanya dipilih karena berdasarkan penilitian yang dilakukan tahun 2015 oleh Carruthers M, Cathcart P, Feneley MR – yang menunjukkan tingkat keberhasilan terapi sampai 82%, sedangkan keberhasilan dengan penggunaan obat minum hanya mencapai 41%11. Pemberian InjeksiTestosterone Undecanoate jangka panjang juga lebih aman terhadap hati karena tidak masuk ke dalam aliran darah,” tambah Dr. Nugroho.