448 Korban Tragedi Kanjuruhan Malang

MALANG: Menko PMK Muhajir Effendy menyampaikan total korban tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur sebanyak 488 orang. Dari 448 korban itu, sebanyak 302 orang di antaranya mengalami luka ringan, 21 orang luka berat, dan 125 orang meninggal dunia.

“Hasil akhir dari korban yang sudah diverifikasi semua pihak termasuk Polri dan penyelenggara ada 448 korban,” kata Muhadjir kepada sejumlah awak media usai rapat koordinasi di Pendopo Panji, Kepanjen, Malang, Senin (3/10/2022.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan tragedi Kanjuruhan yang mengakibatkan ratusan suporter Arema meninggal dunia akan diusut tuntas. Polri kini tengah melakukan investigasi.

Insiden bermula dari suporter yang menyerbu lapangan dan direspons polisi dengan menghalau dan menembakkan gas air mata. Tembakan gas air mata tersebut membuat para suporter panik, berlarian, dan terinjak-injak.

Sebelumnya juga dilansir dari sejumlah media, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta dalam konfrensi pers nya mengatakan bahwa kerusuhan yang menewaskan 137 orang tersebut 2 diantaranya berasal dari anggota kepolisian, berawal dari kekecewaan suporter Arema FC.

“Selama 23 tahun bertanding di kandang sendiri, arema FC tidak pernah mengalami kekalahan. Kekecewaan itu yang mengakibatkan para penonton turun ke tengah lapangan, dan berusaha mencari para pemain dan official untuk menanyakan, kenapa sampai kalah,” kata Kapolda Jawa Timur dalam keterangan Pers nya. Minggu (2/10/2022) dini hari.

Oleh karena itu pengamanan melakukan upaya upaya pencegahan, dan melakukan pengalihan supaya mereka (suporter) tidak masuk kedalam lapangan atau mengejar para pemain. Dalam proses itu untuk melakukan upaya upaya pencegahan sampai dilakukan dengan gas air mata karena sudah anarkis, sudah menyerang petugas dan merusak mobil.

Baca Juga  Kronologi Kerusahan Usai Laga Arema vs Persebaya di Kanjuruhan Malang

“Akhirnya karena gas air mata mereka keluar kesatu titik, di pintu keluar yaitu pintu 10 atau pintu 12 kemudian terjadi penumpukan,” jelasnya.

Didalam proses penumpukan itulah terjadi sesak nafas karena kekurangan oksigen, yang oleh tim medis dan tim gabungan ini dilakukan upaya penolongan, yang ada didalam stadion kemudian juga dilakukan evakuasi kebeberapa rumah sakit.

Dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang 2 diantaranya anggota Polri, yang meninggal di stadion ada 34 orang. Kemudian yang lain meninggal di rumah sakit pada saat upaya proses penolongan.

“Akibat dari kejadian tersebut ada 13 mobil yang rusak, 10 diantaranya milik Polri. Kemudian masih ada 180 orang yang masih dalam proses perawatan,” imbuhnya.

Kami juga akan menyampaikan bahwa 40 ribu penonton yang hadir, tidak semuanya masuk ke tengah lapangan, tidak semuanya kecewa. Hanya sebagian sekitar 3 rb an suporter yang masuk turun ke tengah lapangan, sedangkan yang tetap diam, berada diatas.

“Kami menyampaikan bela sungkawa, dan kami ke depan akan melakukan langkah langkah dengan stakeholder terkait, supaya ini tidak terjadi lagi. Kemudian tim akan melakukan pengecekan kembali, agar tidak ada masyarakat ataupun penonton yang tertinggal,” tandasnya.